Catatan Akhir Tahun 2013

Tak terasa kita sudah mendekati penghujung tahun 2013. Tentunya sudah banyak yang dialami baik suka maupun duka dalam kurun waktu setahun ini dan memberikan warna dalam kehidupan kita. Ada baiknya kita melakukan instropeksi agar di masa yang akan datang kita dapat menjadi insan yang lebih baik lagi.Β  πŸ˜‰

Setelah instropeksi, akan lebih baik jika kita lanjutkan dengan membuat sebuah resolusi untuk satu tahun ke depan. Dengan adanya sebuah resolusi, niscaya hidup kita dapat lebih terprogram dan terarah. Meskipun, kita harus tetap berserah kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang-orang yang takabur. (aduh, saya ini bukan ustad ataupun penceramah lho ya… :mrgreen: )

Dalam setahun ini banyak sudah yang terjadi dalam kehidupan saya, walaupun ternyata sebagian besar tidak sempat saya tuangkan ke dalam rumah saya ini. Kalau dihitung-hitung, sepertinya jari di satu tangan saja masih sisa. πŸ˜₯ Namun di dalam postingan saya yang sedikit itu, lumayan terangkum apa-apa saja kejadian penting yang terjadi di dalam kehidupan saya. (pembelaan diri… 😳 )

Dari mulai kehadiran si kecil, sampai kami sekeluarga harus memulai babak baru kehidupan di negeri seberang. Untuk momen-momen yang berharga yang mungkin belum sempat terabadikan dalam sebuah bingkai kata, semoga saja dapat tetap terangkai dalam sebuah narasi, meski bukan saat ini.

Jadi, bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda membuat catatan akhir tahun? πŸ˜‰

New Part Of Life – 2

Hari itu berjalan seperti biasa, terisi dengan rutinitas yang tidak terlalu istimewa. Selain melakukan troubleshooting dan monitoring, juga membuat sedikit dokumentasi. Cuaca di luar cukup panas, membuat orang-orang enggan untuk keluar meskipun sekedar mencari makan. Mereka lebih memilih memesan makan melalui Kang Iman, seorang pramubakti yang selalu setia dan rela kami repoti.

Ketika sedang asyik terlibat perbincangan dengan teman-teman seperjuangan, tiba-tiba telepon berdering. “Hallo, Mas diharap menghadap Bapak sekarang.” demikian suara dari seberang sana yang tidak lain tidak bukan adalah suara sekretaris pimpinan kami. Tanpa banyak cingcong, saya pun segera menuju asal panggilan tersebut berasal. Saat itu saya memang sedang diminta untuk membuat sebuah masukan untuk rencana pengembangan Data Center kami ke depan. Dalam benak saya, tentunya pembicaraannya tidaklah jauh-jauh dari hal tersebut. Saya pun segera merangkai kata dalam otak saya, agar ketika diutarakan dapat keluar secara terstruktur.

Saya ketuk pintu berwarna coklat itu perlahan, dan dengan hati-hati saya melangkah masuk. Sang Mbak Sekretaris pun segera mempersilahkan saya masuk ke ruangan Bapak Pimpinan kami.

“Ayo.. ayo silahkan masuk, silahkan duduk.” beliau menyambut saya.

Setelah melalui cerita dan penjelasan yang cukup panjang, beliau berkata, “Jadi gue akan mengusulkan elu untuk penempatan di Singapura. Ini masih bersifat usulan, jadi elu banyak berdoa, semoga semuanya lancar. Karena minggu depan akan ada rapat yang membahas hal ini. Mudah-mudahan nama lu bisa masuk.”

Saya mematung dan hanya bisa menjawab dengan kata-kata, “Baik. terima kasih, Pak”

Lu siap kan? Buat penempatan di sana?” beliau memastikan sekali lagi.

“Siap, Pak.” jawab saya singkat.

Setelah mohon diri, saya pun segera kembali ke ruangan kerja saya dan masih dengan pikiran yang berkecamuk tentunya. Saya tidak tahu mesti gembira, sedih, bingung, bahkan malah blank sama sekali. Apa yang diutarakan adalah sesuatu yang memang senantiasa kami nantikan. Namun saya tidak menyangka hal itu akan datang secepat ini.

Saya hanya bisa tenggalam dalam centang perenang alam pikiran saya sendiri. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Saya belum tahu apa saja yang mesti dipersiapkan, hal-hal apa saja yang harus dilakukan. Terima kasih untuk sahabat saya yang telah bersedia untuk menyimpan hal ini (paling tidak sampai waktu yang tepat untuk mengutarakannya :mrgreen: )

***

Continue reading