Mudik, Fenomena atau Budaya?

Ketika jalanan di Jakarta mulai lengang, tidak tampak lagi kerumunan orang, dan sepinya tempat-tempat keramaian, serta tak banyak lagi kendaraan yang lalu lalang. Dan ketika urat-urat jalan di sepanjang pesisir Utara dan Selatan pulau Jawa mendadak disesaki kendaraan roda dua dan roda empat, serta pelabuhan-pelabuhan menjadi ramai bak lautan manusia. Saat itulah momen yang kita namakan MUDIK terjadi… :mrgreen:

Tahun ini saya tidak bisa mudik ke mana-mana. Baik itu ke Solo maupun ke Metro. Kali ini saya hanya bisa menjadi saksi melalui layar televisi. Dan baru kali ini saya alami akan merayakan hari raya Idul Fitri tidak di negeri sendiri. Oleh karena itu, saya mencoba menuangkannya ke dalam coretan ini. Semoga dapat mengobati kegaluan ini, dan di masa yang akan datang dapat menjadi sebuah torehan memori tersendiri. 😎

Mudik menjelang lebaran selalu menjadi cerita yang sangat menarik untuk diikuti. Disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi, dari pagi hingga malam hari.

Banyak cerita baik suka maupun duka yang dialami para pemudik ketika menuju kampung halamannya. Hal-hal yang awalnya tidak masuk logika, sontak menjadi biasa. Kendaraan roda dua yang biasanya menjadi andalan untuk bepergian jarak dekat dengan penumpang tidak lebih dari dua, mendadak  menjadi andalan untuk perjalanan jauh dengan jumlah penumpang empat hingga lima. Ada yang bahagia karena berhasil membawa motor barunya dari ibu kota untuk dibawa keliling kampung waktu hari raya, namun tidak sedikit pula yang harus dirundung duka, karena kehilangan buah hati tercinta. Kepulangan yang mestinya untuk bersuka cita, mendadak menjadi petaka karena sang buah hati harus meregang nyawa karena tidak kuat menahan kerasnya udara ketika berkendara. 😥

Mudik motor

Mudik motor

Mudik seolah menjadi sebuah dopping tersendiri bagi penduduk bumi pertiwi. Apapun rela mereka lakukan asalkan bisa kembali ke kampung halaman di saat hari raya Idul Fitri. Di stasiun-stasiun, di depan loketnya sudah seperti ular ketika banyak orang yang mengantri. Bahkan tidak jarang mereka tidur dan menginap di stasiun dari malam hari. Lain lagi cerita di terminal bus antar kota. Bus-bus pariwisata mendadak disulap menjadi bus-bus luar kota. Terminal pun mulai dipadati kerumunan manusia. 😯

Setelah kita lihat apa yang terjadi ketika mudik tiba, maka pertanyaannya adalah mudik itu sebuah fenomena atau sebuah budaya?

Continue reading

Advertisements

Kilas Balik Hari Pahlawan

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

Hari ini 67 tahun yang lalu, telah terjadi suatu peristiwa besar. Peristiwa heroik yang melibatkan seluruh elemen bangsa dalam rangka menegakkan dan mempertahankan harga diri bangsa. Demi tegaknya Sang Saka Merah Putih di bumi pertiwi ini.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bukan berarti kita sudah merdeka sepenuhnya. Para pedjoeang-pedjoeang kita masih harus terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Masih banyak cobaan, halangan, dan rintangan yang harus dihadapi. Memang Jepang sudah menyerah, namun Belanda sebagai negara yang pernah menjajah kita selama hampir 3,5 abad ternyata tidak tinggal diam. Mereka masih berusaha untuk bercokol kembali di tanah air.

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pedjoeang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Pada tanggal 31 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera Belanda di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya. Para pemuda dengan gagah berani memanjat ke atap hotel dan merobek bagian biru dari bendera Belanda tersebut. Dan beberapa saat kemudian, berkibarlah Sang Saka Merah Putih di atas hotel tersebut.

Insiden Hotel Yamato

Insiden Hotel Yamato

Sejak saat itu semakin seringlah terjadi baku tembak antara pihak pedjoeang dengan pihak AFNEI dan NICA. Sampai terjadinya salah satu insiden yaitu terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby salah seorang petinggi AFNEI. Akibat insiden ini pihak sekutu mengeluarkan ultimatum bahwa sampai tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas.

Continue reading

Tahun Baru, Lembaran Baru

happy new year 2010

Tahun baru 2010 telah tiba, sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk esok yang lebih baik. Tahun baru, seperti layaknya tahun-tahun sebelumnya, dirayakan dengan penuh hingar bingar dan gegap gempita ketika akan memasuki detik-detik pergantian tahun. Memang bagi sebagian orang pergantian tahun ditanggapi dengan adem-adem saja (termasuk saya mungkin 🙂 ). Tidak sedikit pula yang menganggap perayaan tahun baru adalah sesuatu yang penuh pemborosan dan merupakan hal yang buruk.

Terlepas dari perbedaan yang ada, saya lebih senang mengambil jalan tengah. Saya tidak suka hura-hura, juga tidak sepenuhnya benar, karena pada waktu saya masih remaja saya juga pernah melakukan kumpul-kumpul bareng teman-teman saya. Tapi ya sebatas kumpul-kumpul saja, sambil makan-makan dan berbagi cerita. Sedangkan di sisi lain, saya juga tidak terlalu suka perayaan tahun baru yang terlalu berlebihan, yang akhirnya menjadi ajang kebebasan yang kebablasan bagi sebagian muda-mudi.

Memang kalau dilihat dari sudut pandang agama Islam, perayaan tahun baru tidak pernah ada tuntunannya. Jadi bagi sebagian orang merayakan tahun baru adalah sesuatu yang haram, meskipun tidak semua orang melakukan hal yang negatif di malam tahun baru. Ada yang malah menyambung tali silaturrahim dengan kerabat maupun saudara, dan berkumpul bersama keluarga di rumah atau tempat wisata, dimana hal-hal semacam ini mungkin sulit dilakukan di hari-hari biasa.
Continue reading

Guru: Pendidik dan Pengajar

Pendidik dan pengajar sepertinya merupakan dua kata yang memiliki makna sama. Memang kalau sepintas lalu mirip, padahal di antara keduanya terdapat perbedaan yang membawa efek yang luar biasa besar (lho kok iso?) Penasaran? Mari kita simak penjelasannya setelah pesan-pesan berikut ini….

Udah liat pesannya kan? Belum? masa sih? Itu tuh, Facebook, artinya update status dulu di Facebook. Halah, ngelantur….. Kembali ke pokok permasalahan. Pengajar berasal dari kata ajar yang artinya petunjuk kepada orang supaya diketahui (dituruti) (kalau gak percaya liat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, deh 😉 ). Dari sini dapat dipahami bahwa ajar; mengajar adalah suatu tindakan untuk membuat orang lain mengerti, atau paham akan sesuatu. Nah, jadi kalau Anda menjadi seorang pengajar, berarti Anda wajib membuat orang lain mengerti akan hal yang Anda jelaskan pada mereka. Kalau belum, berarti Anda belum berhasil sebagai seorang pengajar.

Sedangkan pendidik yang kata dasarnya didik memiliki arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. (Sekali lagi ini kata KBBI lho! 🙂 ) Wah keren ya..??? Yang lebih dahsyat lagi arti dari kata pendidikan : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Di sini dapat kita tarik benang merah bahwa didik; mendidik; pendidikan adalah hal yang terkait dengan ahlak atau budi pekerti, bukan hanya melulu mengenai sebuah materi pelajaran.

Nah, setelah mengetahui arti dan makna dari dua kata di atas, sekarang kita lihat arti kata Guru. Dalam Bahasa Jawa, guru adalah digugu dan ditiru. Digugu artinya menjadi tempat menimba ilmu atau tempat bertanya, sedangkan ditiru artinya ya dikuti seluruh tindak tanduknya. Bukankah ada pepatah mengatakan: guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Hal ini mengandung makna bahwa setelah seorang murid menduplikasi dari gurunya, maka dia akan senantiasa memodifikasi, sehingga dia akan memiliki lebih dari gurunya. Ini kalau untuk hal yang positif sih oke-oke saja. Tapi bagaimana bila yang ditiru itu merupakan hal yang negatif? Bisa Anda bayangkan sendiri, mengerikan!!!
Continue reading

Serba serbi Pilpres

Sebentar lagi bangsa kita akan mengalami pesta demokrasi yang terbesar, termegah, dan terseru yaitu Pemilihan Presiden (Pilpres). Banyak sekali pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam event ini. Dari tim suksesi, kelompok pendukung, simpatisan, bahkan saya dan Anda pun turut terlibat. Adapun saya bukanlah tim suksesi dari salah satu calon tersebut. Saya lebih cenderung memikirkan apa yang akan mereka lakukan jika sudah benar-benar terpilih. Apakah memang akan melaksanakan janji-janji politik mereka? Atau hanya untuk kemenangan semata? Dan setelah itu kembali lagi ke kepentingan mereka yang kita tidak tahu apakah itu.

Jika kita lihat secara general, atau bahkan dapat kita lihat pada Debat Capres, masing-masing calon belum memiliki ide atau program yang spektakuler, dan antara satu dengan lainnya saling mendukung. Memang indah bila dipandang saat acara yang berlangsung di Stasiun televisi itu menunjukkan 3 calon presiden dalam satu event saling bertatap muka, dan bahkan masing-masing dapat menyuarakan Program-program mereka. Hal itu sangat kontras apabila kita melihat iklan dan pidato mereka saat di depan publik mereka, yang cenderung saling menjatuhkan. Apa nggak ada cara lain untuk berkampanye, selain menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan mereka? Kalo saya rasa kok kurang bijaksana dan kurang kreatif.
Continue reading