Kilas Balik Hari Pahlawan

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

Hari ini 67 tahun yang lalu, telah terjadi suatu peristiwa besar. Peristiwa heroik yang melibatkan seluruh elemen bangsa dalam rangka menegakkan dan mempertahankan harga diri bangsa. Demi tegaknya Sang Saka Merah Putih di bumi pertiwi ini.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bukan berarti kita sudah merdeka sepenuhnya. Para pedjoeang-pedjoeang kita masih harus terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Masih banyak cobaan, halangan, dan rintangan yang harus dihadapi. Memang Jepang sudah menyerah, namun Belanda sebagai negara yang pernah menjajah kita selama hampir 3,5 abad ternyata tidak tinggal diam. Mereka masih berusaha untuk bercokol kembali di tanah air.

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pedjoeang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Pada tanggal 31 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera Belanda di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya. Para pemuda dengan gagah berani memanjat ke atap hotel dan merobek bagian biru dari bendera Belanda tersebut. Dan beberapa saat kemudian, berkibarlah Sang Saka Merah Putih di atas hotel tersebut.

Insiden Hotel Yamato

Insiden Hotel Yamato

Sejak saat itu semakin seringlah terjadi baku tembak antara pihak pedjoeang dengan pihak AFNEI dan NICA. Sampai terjadinya salah satu insiden yaitu terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby salah seorang petinggi AFNEI. Akibat insiden ini pihak sekutu mengeluarkan ultimatum bahwa sampai tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas.

Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pedjoeang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan/milisi. Ultimatum tersebut tentunya ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka. Mereka rela berkorban jiwa dan raga demi tegaknya ibu pertiwi yang mereka cintai, MERDEKA ATAU MATI!!! Demikian slogan yang diusung para pedjoeang.

Di luar dugaan pihak Inggris yang mengira bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Memang sepertinya timpang dan tidak seimbang, di satu sisi Inggris menggunakan kavaleri dan alat-alat berat, di sisi lain para pedjoeang menggunakan senjata hasil rampasan dari Jepang dan senjata seadanya, namun semangat patriotisme yang sudah tertanam kuat seolah memberikan sebuah kekuatan yang luar biasa. Mereka tidak gentar sedikitpun, dalam benak mereka hanya satu: Usir penjajah dari bumi pertiwi.

Bung Tomo

Bung Tomo

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 – 16,000 pedjoeang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pedjoeang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Demikian hebatnya semangat nasionalisme yang dimiliki pemuda pada saat itu, mereka rela dan sanggup berkorban apa saja demi ibu pertiwi yang mereka cintai. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, masihkah para pemuda kita saat ini mewarisi semangat yang sama? Masihkah ada di dalam dada setiap pemuda kita saat ini semangat nasionalisme untuk berkorban demi bangsa dan negara? Masihkah kita bangga kepada ibu pertiwi? Atau lebih memilih identitas negara lain? Masihkah kita bangga dengan nilai-nilai tradisi bangsa sendiri ketimbang bangsa lain? Apakah kita lebih memilih belajar tari Jaipong atau K-dance? Apakah kita lebih suka belajar bahasa Dayak ketimbang Bahasa Korea? Yah, masing-masing dari kita sajalah yang tahu jawabannya. Sebelum semuanya “terlambat” mari melalui momentum hari pahlawan ini kita pompa lagi semangat patriotisme dan nasionalisme dalam diri kita. Merdeka!!!

Sumber: wikipedia

2 thoughts on “Kilas Balik Hari Pahlawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s