Menuju Jakarta Baru

Biasanya saya enggan untuk mengangkat topik yang berkaitan dengan politik. Namun kali ini saya tegelitik untuk mengangkat topik mengenai Pilkada DKI yang baru saja berlalu. Mengapa? Karena Pilkada DKI kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Event ini tidak hanya menyedot perhatian warga Jakarta, melainkan seluruh rakyat Indonesia. Begitu banyak hal-hal di luar dugaan dan menjadi kejutan tersendiri.

Memang pesta demokrasi rakyat Jakarta ini telah usai, namun masih saja menjadi buah bibir dan pembicaraan hangat. Selain itu, berakhirnya pesta demokrasi ini merupakan awal bagi gubernur terpilih untuk menjalankan tugasnya, membuktikan janji-janji yang telah mereka ikrarkan pada masa kampanye.

Saya akan mencoba membawa ingatan kita kembali pada masa-masa awal Pilkada putaran pertama. Yang mendaftar menjadi calon gubernur dan wakil gubernur sangat beraneka ragam. Ada wajah-wajah lama yang ingin mencoba “peruntungan” baru, ada yang mengaku mewakili dari pihak independen dan tidak didukung partai manapun, bahkan ada yang berasal dari luar Jakarta pun mencoba mencalonkan diri.

Jakarta memang bukan seperti kota-kota lainnya di Indonesia, karena ia merupakan ibu kota negara tercinta Republik Indonesia. Sebagai ibu kota negara, Jakarta menjadi tempat persinggahan oleh orang-orang dari seluruh Indonesia. Beragamnya etnis serta latar belakang orang-orang yang mendiami Jakarta ini menyebabkan peta politik menjadi kabur dan samar. Selain itu sebagai ibu kota, Jakarta akhirnya menjadi milik bersama, sehingga siapa pun dapat mencalonkan diri menjadi gubernur DKI.

Enam pasangan yang berkompetisi pada putaran pertama Pilkada ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Setelah melalui pertarungan yang cukup panas pada masa kampanye, akhirnya persaingan mengerucut kepada dua pasangan calon, yakni Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang akhirnya bersaing pada putaran kedua. Dominasi perolehan suara di antara dua pasangan ini juga cukup mencolok jika dibandingkan dengan calon-calon pasangan yang lain.

jokowi vs foke

jokowi vs foke

Dari putaran pertama, diperoleh dua pasangan calon yang akan diadu lagi pada putaran kedua. Persaingan ini akhirnya mengerucut pada perang citra antara dua pribadi yaitu Fauzi Bowo, biasa dikenal dengan Foke sebagai incumbent dan Joko Widodo, biasa disebut dengan Jokowi yang merupakan simbol dari perubahan, mengingat dia bukanlah warga Jakarta melainkan warga Solo. Dua orang ini memiliki karakter yang berbeda, serta model kampanye yang berbeda. Foke seringkali melakukan kampanye yang bersifat deklaratif, dengan merangkul berbagai organisasi massa seperti Forkabi dan organisasi kepemudaan lainnya, serta sesekali berjalan-jalan ke pasar untuk bertemu dengan para pedagang. Sedangkan Jokowi lebih memilih berjalan dari gang ke gang, dari kampung ke kampung, dan mencoba berinteraksi dengan masyarakat secara langsung serta mencoba menggali apa saja yang menjadi keluhan warga.

Memasuki putaran kedua, persaingan di antara keduanya pun semakin panas. Tim sukses dari masing-masing calon berusaha mencari simpati massa dengan cara-cara yang unik. Bahkan pertarungan ini sampai di dunia maya melalui social media. Ada juga simpatisan yang membuat game dengan karakter Jokowi dan Foke namun yang menjadi objektif adalah program-program yang mereka tawarkan di saat masa kampanye.

Di putaran kedua ini pula berhembus isu tidak sedap mengenai SARA. Salah seorang tokoh terkenal sempat menuduh ibunda dari Jokowi seorang kafir (wheeew, sudah kehabisan akal atau bagaimana ya?). Tokoh tersebut sempat diundang oleh Panwaslu untuk dimintai keterangan terkait opini yang telah dilontarkannya. Yang menggelikan adalah bahwa dia mendapatkan informasi mengenai ibunda Jokowi itu dari internet dan menganggap semua berita yang ada di internet itu benar adanya. Dan parahnya lagi tokoh ini masih dengan angkuhnya merasa tidak bersalah serta hanya mau meminta maaf kepada ibunda Jokowi saja. Padahal bukankah akan lebih baik jika meminta maaf juga kepada Jokowi, karena opini tersebut dilontarkan bertujuan untuk menyerang pihak Jokowi. C’mon man… please deh, mbok ya kalau dapat informasi itu diklarifikasi dulu kebenarannya, orang gila pun bisa menyebarkan informasi di internet yang menyatakan kalau dia adalah presiden negara antah berantah, tapi apa ya kita lantas percaya? Ketika informasi yang didapatkan itu salah dan tidak akurat, maka saat kita menjadikannya dasar untuk menuduh orang lain justru akan menjadi fitnah. Saya bukanlah orang yang ahli dalam hal agama, namun saya ingat bahwa kita tidak boleh dengan begitu mudahnya mengkafirkan orang lain tanpa dilandasi bukti-bukti yang kuat. Yang mengejutkan adalah bahwa Jokowi menanggapinya dengan santai dan tidak terlalu ambil pusing mengenai isu itu. Dia hanya merasa sedikit kecewa karena yang melempar isu itu adalah salah satu tokoh idolanya. Hmm…

Selain itu, perbedaan persepsi penanganan Jakarta juga menjadi poin menarik diantara kedua calon. Foke mengungkapkan bahwa mengelola Jakarta itu tidak mudah serta berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, karena ia merupakan ibu kota negara dimana semua pusat aktivitas pemerintahan dan birokrasi berada. Lebih ekstrim lagi dia mengungkapkan bahwa mengelola Jakarta tidaklah sama dengan mengelola Solo yang notabene adalah kota yang sebelumnya dipimpin oleh Jokowi. Sedangkan Jokowi berpendapat bahwa mengelola Solo dan Jakarta adalah sama karena permasalahan yang dihadapi sama, ada banjir, isu premanisme, kemacetan, tata kota, dan restrukturisasi birokrasi. Keduanya memang benar dan tidak ada yang salah. Yang berbeda adalah sudut pandangnya saja. Jika Foke melihat secara khusus, sedangkan Jokowi melihatnya secara general. Perbedaan sudut pandang ini sangat wajar menurut saya, karena Foke adalah pemain lama di pemerintahan Propinsi Jakarta sedangkan Jokowi adalah pendatang sehingga dia akan melihat semua permasalahan dari sisi yang lebih umum.

Yang paling menarik serta menjadi puncaknya adalah ketika partai-partai besar yang calonnya kalah pada putaran pertama akhirnya memutuskan merapat kepada calon incumbent yaitu Foke-Nara alih-alih merapat ke Jokowi-Ahok. Praktis Jokowi-Ahok hanya didukung oleh dua partai yang mengusung mereka yaitu PDIP dan Gerindra. Sedangkan Foke-Nara didukung oleh 5 partai besar, antara lain : Partai Demokrat, Golkar, PKS, PAN, dan PPP. Melihat peta politik yang seperti ini dapat diumpamakan sebagai semut melawan gajah. Tapi siapa yang akhirnya menang? Kita semua sudah tahu jawabannya kan?😉

Pada tanggal 20 September 2012, Jakarta dan seluruh Indonesia menjadi saksi bahwa Pilkada DKI Jakarta tahun ini dimenangkan oleh rakyat. Mengapa? Karena meskipun para pimpinan parpol telah mendeklarasikan diri untuk mendukung calon incumbent, namun hal ini tidak sampai ke ranah akar rumput. Rakyat tetap memiliki hak dan kebebasannya sendiri untuk memilih siapa dan kepada siapa Jakarta ini akan mereka titipkan 5 tahun ke depan. Keberpihakan parpol-parpol besar kepada Foke-Nara ternyata tidak menggambarkan peta kekuatan pemilih. Jakarta yang merupakan kota megapolitan dengan segala kompleksitas di dalamnya serta dengan berbagai keragaman penduduknya seolah telah menjawab arogansi sebuah aliansi. Hal ini menunjukkan pula bahwa rakyat Jakarta sekarang sudah pintar dan sudah tidak percaya lagi pada yang namanya parpol. Mereka sudah muak dengan polah tingkah elit parpol yang hanya memikirkan kepentingan pribadi mereka tanpa mau peduli kepada yang memberi amanah kepada mereka. Jadi saat rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan haknya maka inilah yang terjadi, sebuah realita ketika apa yang dideklarasikan di awal tadi akhirnya hanya menjadi omong kosong belaka alias formalitas saja.

Saya yang setiap harinya menggunakan transportasi massa murah meriah yakni kereta lokal dari Purwakarta, biasa mendengar celoteh masyarakat kecil terkait dengan Pilkada DKI Jakarta tahun ini. Kalangan arus bawah memang lebih berpihak kepada Jokowi karena track record-nya ketika memimpin Solo yang dikenal dekat dengan rakyat kecil, kaum marjinal, atau sesuai nama blog ini yaitu kawulo alit. Mereka menaruh harapan yang begitu besar kepada Jokowi agar dapat membuat perubahan terhadap Jakarta, namun tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan serta dengan melakukan pendekatan secara personal. Mereka kagum akan kemauan Jokowi yang rela berpeluh-peluh ria berjalan dari gang ke gang, menyapa setiap orang yang dilaluinya. Ternyata model kampanye seperti inilah yang lebih disukai rakyat. Namun yang menjadi beda adalah, bahwa ketika di Solo Jokowi tetap melakukan ini meskipun saat itu sudah menjabat walikota dan bukannya dalam masa kampanye seperti di Jakarta. Sekarang tinggal kita nantikan, apakah kelak jika sudah dilantik dan menjadi gubernur Jokowi tetap melakukan “ritual” nya ini atau tidak.

Pilkada telah usai, hasil akhir pun sudah diperoleh, sekarang tugas kita selanjutnya adalah mengawal gubernur terpilih dalam menjalankan tugasnya. Mari kita pantau kinerjanya, mengawasi apakah program-program kerja yang mereka janjikan pada masa kampanye dilaksanakan atau tidak. Semoga ke depannya Jakarta akan menjadi lebih baik, serta dapat teratasi permasalahan-permasalahan yang saat ini menjadi pe-er kita bersama.

Kepada gubernur dan wakil gubernur terpilih, Pak Jokowi dan Pak Basuki, selamat bertugas dan tunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Kepada kalianlah Jakarta ini kami titipkan. Tetaplah menjadi orang yang dikagumi seperti pada masa kampanye, tetaplah berjalan dari gang ke gang, dari kampung ke kampung utnuk mendengar keluhan secara langsung dari warganya.😎

3 thoughts on “Menuju Jakarta Baru

  1. Pingback: Kemenangan Jokowi | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s