Critics Won’t Kill You!!!

Keripik pedas

Keripik pedas memang enak rasanya, tetapi beda halnya dengan kritik pedas. Tidak semua orang dapat menerima kritikan dari orang lain. Jka kita cermati, reaksi orang akan bermacam-macam ketika dikritik.Adayang ofensif, defensif, ataupun menjadi temperamental, tergantung pada sejauh mana ketenangan psikologis masing-masing.

Apa reaksi pertama kita ketika ada orang lain yang komplain karena proses kita yang dinilainya lambat? Apa respon pertama kita saat atasan mempertanyakan hasil kerja yang menurutnya belum sesuai harapan? Dan bagaimana sikap kita ketika orang lain menjelek-jelekkan dan menjatuhkan reputasi kita meskipun kenyataannya tidak demikian? Kritik yang pedas maupun yang konstruktif, yang benar maupun yang fitnah pasti akan membuat darah kita mendidih. Terkadang kita sudah merasa bekerja secara mati-matian namun orang lain dengan entengnya melontarkan kritik. Rasa kecewa, sedih, sakit hati, bahkan marah terkadang menjadi respon pertama kita. Maka, bila tidak pandai dalam menyikapi kritik, bisa-bisa kritik justru akan membuat reputasi kita betul-betul merosot.

kritik pedas

Orang yang paling pandai, paling ahli, dan paling bekeja keras pun tidak akan luput dari yang namanya kritik. Ketika kita masih dalam taraf belajar, tahap mencoba, biasanya kita lebih bisa menyikapi kritik secara bijak dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran. Namun, ketika kita sudah bekerja keras, dan sudah merasa mampu akan suatu hal, maka ketika kita mendapat kritik, hal itu akan dirasa lebih menyakitkan, dan seolah-olah orang lain berniat untuk menyudutkan kita. Nah, hal semacam inilah yang harus kita waspadai.

Kita harus sadar bahwa kritik dari orang lain sangatlah penting agar kualitas pribadi kita dapat terus meningkat. Sebagai contoh, sebuah perusahaan terkadang rela menganggarkan budget untuk melakukan riset mengenai posisi perusahaan dibandingkan dengan  para kompetitornya. Dan ketika hasil riset tersebut menunjukkan bahwa posisinya jauh berada di bawah kompetitornya, apakah lantas kita menyalahkan pihak yang melaksanakan riset? Lalu apa gunanya riset tersebut kalau begitu? Tentunya berdasarkan hasil riset tersebut, perusahaan akan berbenah diri agar dapat lebih baik lagi dan lebih kompetitif dibandingkan rivalnya.

Ibarat pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpa” Seperti itulah kira-kira gambaran kritik. Jadi agar mental kita lebih siap dalam menerima kritik ada beberapa tips yang akan coba saya sharing. Dalam hal ini, saya belum tentu benar 100 % tetapi mungkin dengan tips yang saya bagikan ini dapat membantu kita menjadi lebih siap dalam menerima kritik.

1.  Belajar Seumur Hidup

Hidup adalah pembelajaran, kira-kira seperti itulah pesan singkatnya. Jadi apa yang kita lakukan selama kita hidup sampai ajal menjemput adalah sebuah proses belajar. Dari bayi kita belajar berbicara, merangkak, berjalan, dan berlari. Ketika beranjak dewasa, maka proses pembelajaran kita adalah ketika dihadapkan pada sebuah masalah, apakah kita mampu  menyelesaikannya atau tidak. Dan ketika kita sudah beranjak senja, maka kita belajar untuk lebih memahami hakikat hidup serta belajar mempersiapkan bekal yang akan kita bawa saat kita menghadap-Nya kelak.  Nah, dengan menanamkan mindset seperti ini, dapat meredam rasa sakit kita ketika menerima kritik dari orang lain, meskipun itu pedas. Wong namanya juga belajar, jadi wajar kalau salah ya dibenarkan atau diingatkan.

2.  Ikutilah ilmu padi

Kita semua tahu bahwa padi yang semakin berisi akan semakin menunduk. Jadi seperti itulah kira-kira hal yang dapat kita tiru dari padi. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin tinggi prestasi kita, semakin besar tanggung jawab kita bukannya membuat kita sombong melainkan tetap rendah hati dan senantiasa menghargai orang lain. Bisa jadi orang lain itu memiliki kelebihan yang tidak kita ketahui dibandingkan diri kita. Jadi sehebat apapun kita, jika mendapat kritik kita harus sadar bahwa apa yang kita miliki atau kita raih ini mungkin memang masih ada kekurangannya.

3.  Alihkan energi negatif untuk sebuah usaha

Merasa marah, jengkel, sedih, terdzolimi ketika menerima kritik? Wajar, sangat wajar. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita akan menjadi lebih baik dengan hanya melampiaskan amarah dan emosi kita? Mari kita gunakan energi negatif tersebut untuk bertolak, memperbaiki kekurangan kita dan berusaha memperbaiki diri kita. Biasanya, ketika sesorang dirundung emosi, dia akan memiliki energi yang luar biasa (bisa untuk menghidupkan lampu jalan di seluruh Jakarta *lebay mode on*:mrgreen: ) Nah, ketimbang menggunakan energi tersebut untuk hal-hal yang negatif, lebih baik kita  salurkan untuk melakukan hal-hal yang mampu meningkatkan kualitas diri kita.

4.  Prestasi bukan tujuan akhir

Memasang target untuk karir atau masa depan kita boleh-boleh saja, harus malah. Tetapi jangan sampai hal tersebut mengekang kita. Prestasi yang kita raih bukanlah pemberhentian terakhir kita. Melainkan hanyalah sebuah pit stop belaka. Lalu apakah tujuan kita yang sebenarnya? Tujuan kita adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Jika kita sudah menyadari hal ini, maka ketika kita tengah/telah berprestasi dan ada pihak/orang lain melontarkan kritik, kita tidak akan mudah tumbang toh ini bukan tujuan akhir kita. Kita memiliki tujuan yang lebih mulia yakni selalu menjadi pribadi yang lebih baik.😎

5.  Feedback dari sahabat dekat

Memiliki sahabat dekat yang mampu memberikan opini secara obyektif sangatlah penting. Biasanya kita dapat lebih menerima ketika yang memberikan kritik itu sahabat kita sendiri ketimbang orang lain. Dengan adanya orang terdekat yang mampu mengingatkan kita ketika kita melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan dalam tindakan kita, tentu ini akan meminimalisir kemungkinan orang lain untuk memberikan kritik yang tajam kepada kita. Meskipun saya tidak menjamin tidak ada sama sekali orang lain yang mengkritik kita, tetapi paling tidak kita akan lebih sering meningkatkan kualitas diri kita terlebih dahulu sebelum orang lain menyadari kekurangan kita.😉

6.  Muhasabah atau koreksi diri

Selain menerima masukan dari orang-orang terdekat kita, alangkah baiknya apabila kita juga melakukan assessment terhadap diri kita sendiri. Luangkan waktu sejenak, lalu selami diri kita. Lihatlah ke belakang, apakah ada yang kurang atau adakah yang perlu diperbaiki dari diri kita. Cobalah untuk jujur kepada diri kita sendiri. Jika terhadap diri sendiri saja kita sulit untuk jujur, lalu bagaimana dengan orang lain? Setelah kita temukan kekurangan pada diri kita dan apa- saja yang ingin kita perbaiki dari diri kita, catatlah di secarik kertas kemudian letakkan atau simpan di tempat yang hanya kita sendiri mengetahuinya. Karena tidak lucu jika coret-coretan itu ditemukan oleh orang lain:mrgreen: . Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, baca sejenak coretan yang kita buat tadi. Resapi dan bulatkan tekad dalam hati bahwa kita ingin menjadi peribadi yang lebih baik dengan membuang sifat-sifat jelek yang kita kumpulkan tadi, dan kita ganti dengan sifat-sifat yang lebih baik sehingga kita mampu meningkatkan kualitas diri kita.

Itulah beberapa tips bagi kita agar dapat lebih siap dalam menerima kritik. Mudah-mudahan bermanfaat, dan kita dapat menjadi insan yang lebih baik, dan kualitas pribadi kita juga meningkat.

* Sedikit catatan kecil dari saya

Saya heran kepada para anggota dewan yang sedang duduk di Gedung Kepik, mereka kerap kali menerima kritik baik yang berupa sindiran halus maupun kritik tajam. Namun mereka tak bergeming sedikit pun. Entah mereka tuli atau tak punya hati nurani, ketika kita, rakyat kecil ini terdzolimi. Tidak ada niat dari mereka untuk memperbaiki diri, bahkan semakin kesini justru semakin menunjukkan arogansi. Ini cuma sekedar curhat seorang rakyat kecil, wong cilik, alias kawulo alit  (yang mungkin bagi mereka gak penting). Bagaimana dengan sahabat sekalian? Monggo ditunggu opini maupun pendapatnya di kolom komentar ya…😳

3 thoughts on “Critics Won’t Kill You!!!

  1. wah.. jadi tergoda untuk berkomentar.. IMHO. orang menjadi defensif/agresif dengan kritik apabila seseorang berorientasi kepada result. ketika kita berorientasi kepada result, maka apabila hasil yang dicapai tidak sesuai dengan expektasi yang diharapkan, maka akan timbul kekecewaan. singkat kata, kita tidak bisa merubah orang lain, namun kita bisa merubah diri sendiri. dan kalau kita berorientasi kepada Process bukan result. maka, apapun hasil yang kita capai/ apapun omongan orang, selama kita merasa sudah melakukan yang terbaik, maka tentu tidak ada masalah bukan?

  2. Hmm..kritik..buat saya adalah :

    1. Membangun..disaat saya benar2 lagi waras..berjiwa besar dan berpositif thinking bahwa itu untuk kebaikan dan membangun ke arah yg kebih baik
    2. Menyudutkan, disaat saya sedang tertekan secara mental yang itu juga dibuat oleh diri saya sendiri sebenarnya..* ujung2nya nangis lebay atau sikap defensif sy jd muncul
    3. Momen untuk saya bisa menyampaikan pendapat/cara berpikir saya *klo ketemu sama orang yg open minded dan saya percaya dia gak akan nge-judge saya
    4. kayaknya itudeh…cuma memang siap tidak menerimanya kritik itu bergantung dengan tingkat kedewasaan emosi🙂 Hadueh…muncrat2 ini saya ngomongnya :p

  3. kadang kita menjadi defensif karena merasa diserang dan disudutkan
    apalagi untuk orang2 yang berorientasi terhadap hasil kerja dan orang2 yang perfeksionis. saya sendiri terkadang masih sulit untuk menerima kritik. apalagi kalau yang memberikan kritik adalah sesorang yang menurut saya levelnya di bawah saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s