WIKILEAKS : Bad guy or good guy?

 

Wikileaks Logo

Belakangan ini nama Wikileaks membuat heboh dunia maya. Kemampuannya mengungkap rahasia-rahasia Amerika membuatnya menjadi “selebriti” dadakan di jagat maya. Amerika Serikat, sebuah negara adidaya seolah dibuat tak berkutik oleh Wikileaks ini. Satu persatu “borok-borok” Amerika mulai diungkap ke hadapan publik seolah menelanjangi negara Paman Sam tersebut. Dari mulai perjanjian dengan Belanda mengenai masalah nuklir, sampai kesepakatan dengan Raja Arab Saudi mengenai permasalahan Iran.

Amerika yang merupakan gudangnya Intel, tak mau tinggal diam. Rumah (baca: Server Amazon) tempat bernaung si Wikileaks ini pun mau tak mau harus mendepak tamunya tersebut. Kemudian pendiri Wikileaks sendiri saat ini tersangkut kasus pelecehan seksual dan sedang menunggu persidangan. Tapi saya sendiri tidak sepenuhnya yakin bahwa pendiri Wikileaks benar-benar tersangkut kasus tersebut, bisa saja ini merupakan taktik untuk menahan langkah Julian Assange supaya tidak bertindak lebih jauh. Karena jika  Julian Assange langsung ditahan, maka akan tampak sekali jika Amerika menyembunyikan sesuatu.

Seperti halnya di dalam sebuah film, selalu ada penjahat dan ada jagoannya. Saya mengandai-andai, jika kasus ini diangkat ke dalam sebuah film, kira-kira siapa ya, yang pantas untuk menjadi penjahatnya? Wikileaks atau Paman Sam? Jawaban saya adalah, tergantung siapa yang membuat film. Jika yang membuat film adalah Holywood, maka yang menjadi penjahatnya sudah pasti si Wikileaks, dengan alibi membahayakan keamanan nasional Amerika. Tapi jika yang membuat film adalah sineas indie, maka bisa jadi yang menjadi penjahat adalah si Paman Sam karena dianggap menghalang-halangi terungkapnya sebuah kebenaran.

Terlepas dari benar atau tidaknya kasus Wikileaks ini, saya mempunyai beberapa skenario mengapa kasus ini tiba-tiba mencuat ke permukaan. Apa yang akan saya paparkan ke depan belum tentu benar adanya, ini merupakan opini pribadi saja.

Skenario 1

Wikileaks ini dibuat dan diprakarsai oleh negara-negara yang ingin menjatuhkan kewibaan pemerintah Amerika. Dilihat dari dokumen-dokumen yang dibocorkan, serangan mereka menjurus kepada Amerika, meskipun saya yakin, mereka memiliki dokumen milik negara lain juga. Tetapi yang selama ini di blow up adalah dokumen-dokumen diplomatik milik Amerika. Ada kepentingan negara atau kelompok tertentu yang bermain di sana. Bisa berasal dari dalam Amerika sendiri, yakni pihak-pihak yang tidak suka dengan pemerintahan yang sekarang, maupun berasal dari luar, yakni negara-negara yang memiliki kepentingan terhadap Amerika.

Di lihat dari dokumen-dokumen yang diunggah oleh Wikileaks ini, maka keberadaan para diplomat Amerika mulai terancam di negara akreditasinya. Mereka mulai diwaspadai, karena ternyata selain menjalankan misi diplomatik, juga menjalankan misi spionase. Kemungkinan terburuknya adalah negara akreditasi memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika.

Dengan adanya dokumen-dokumen yang diunggah Wikileaks, seolah menggiring opini publik (dalam hal ini seluruh dunia) untuk melihat kebobrokan Amerika. Hal ini akan berlanjut dengan adanya mosi tidak percaya terhadap negara Adikuasa tersebut. Jika sebagian besar negara di dunia sudah tidak percaya lagi dengan Amerika, maka negara tersebut akan seperti macan ompong, tidak memiliki power lagi, terutama dalam hal diplomatik, karena para diplomat mereka sudah tidak dipercaya lagi.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam skenario 1 ini Amerika merupakan “korban” dari kemunculan Wikileaks yang bisa saja diprakarsai oleh negara / kelompok tertentu.

Skenario 2

Konspirasi dan propaganda adalah hal yang tidak pernah lepas dari Amerika. Anda tentunya masih ingat pada tahun 1947, Amerika bersama sekutunya membentuk perkumpulan yang disebut dengan UKUSA dan mendirikan Echelon Project. Inti kegiatan dari Echelon Project tersebut adalah mengadakan penyadapan terhadap lalu lintas informasi, baik yang melalui telepon, selular, bahkan internet. Mengingat fakta ini, maka agak mustahil bagi Amerika bisa sampai “kecolongan” dengan adanya kasus Wikileaks ini.

Dengan mata-mata yang tersebar ke seluruh dunia, sebenarnya mudah saja bagi Amerika untuk mengetahui kegiatan Wikileaks dari dulu. Ditambah Wikileaks pernah bernaung pada server Amazon, yang lokasinya berada di Amerika, namun hal tersebut tidak pernah terendus dari awal, yang membuat insiden ini sedikit janggal.

Sebagai informasi, NSA (National Security Agent), sebagai sebuah organisasi yang menjamin keamanan nasional di Amerika, memiliki otoritas untuk melakukan penyadapan dan pemantauan terhadap lalu lintas informasi dalam menjalankan tugasnya. Hampir tidak ada berita atau informasi yang lolos dari pengawasan mereka, apalagi hal-hal yang menyangkut keamanan nasional. Jadi rasanya cukup aneh ketika saat ini Amerika dibuat pusing tujuh keliling dengan adanya insiden Wikileaks ini.

Maka pada skenario kedua ini yang terjadi adalah bahwa Amerika saat ini berpura-pura menjadi korban, dan mengajak kita semua berpikir bahwa mereka pun masih bisa kecolongan, mereka hanya manusia biasa. Hal ini akan membuat kecurigaan dan kewaspadaan terhadap kegiatan intelijen mereka mengendur dan beralih kepada isu yang lebih hangat yaitu si Wikileaks ini.

Kelanjutan dari insiden ini adalah Wikileaks menjadi semacam starter atau motivator bagi organisasi atau pihak yang selama ini menyimpan rahasia suatu negara untuk mulai mempublikasikannya kepada publik. Dan ketika di tiap-tiap negara sudah muncul gerakan “membocorkan rahasia” secara berjamaah ini, mereka (baca: Amerika) tinggal duduk manis melihat apakah ada informasi rahasia yang bermanfaat bagi mereka atau tidak. Mereka tidak perlu merekrut para ahli Matematika setara S2 ke dalam organisasinya untuk mengupas kode atau sandi-sandi tertentu. Apa yang mereka lakukan cukup melihat media yang terbit setiap hari, karena di dalamnya pasti ada isu yang diangkat hasil dari “leaks-leaks” yang bermunculan di tiap-tiap negara. Media menjadi semacam katalisator, karena isu yang diangkat dari “leaks-leaks” tersebut pasti akan menyedot perhatian dari masyarakat, dan itu berarti oplah mereka akan semakin meningkat. Di negara kita saja sudah muncul yang namanya IndoLeaks, di mana situs ini membeberkan mengenai perjanjian pemerintah dengan salah satu perusahaan Perangkat Lunak terbesar. Selain itu dia juga memuat mengenai hasil pembicaraan presiden (Pak Harto pada waktu itu) dengan Presiden Amerika.

Sekarang saya kembalikan lagi kepada pembaca, kira-kira kasus kemunculan Wikileaks ini lebih condong ke skenario 1 atau skenario 2? Atau mungkin Anda memiliki skenario atau pemikiran sendiri? Silahkan Anda bagi di sini dalam bentuk komentar. Sekali lagi tulisan ini hanya merupakan hasil lamunan dan pemikiran saya saja ketika sedang berandai-andai. Jadi jangan dipercaya 100 %.

Oh ya, saya ingin sedikit merepotkan para pembaca sekalian, dengan mengisi polling berikut:

 

5 thoughts on “WIKILEAKS : Bad guy or good guy?

  1. hm…
    gimana ya?
    mungkin karena nggak berpengaruh secara pribadi.. membuat saya rada abstain ttg keberadaan wikileaks. walopun saya juga mengikuti beritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s