Cinta Itu Ada (2)

Masih merupakan lanjutan dari cerita yang lalu.

Matahari sudah tampak meskipun belum terlalu tinggi ketika aku melangkahkan kaki ke sekolah. Aku biasa berjalan kaki ke sekolah, melintasi sawah, menyeberangi sungai kecil, dan melewati rimbunnya pepohonan. Meskipun jarak dari sekolah ke rumahku lumayan jauh, sekitar 4 km, namun aku tak pernah merasa lelah. Mungkin karena daerah yang kulintasi masih rimbun oleh pepohonan sehingga terik sinar matahari pun tak kurasakan.

Rumahku terletak di lereng Gunung Lawu, sehingga udaranya tidak terlalu panas. Padi yang sudah mulai menguning menghiasi petak-petak sawah berundak, yang terbelah oleh aliran sungai kecil di tengahnya, serta pepohonan besar yang seolah menjadi pembatasnya menjadi sebuah pemandangan sempurna, yang akan selalu aku rindukan. Rumah-rumah joglo dengan halaman yang luas berjajar rapi, tampak para penghuninya sedang menjemur gabah mereka di depan rumah, sambil sesekali mengusir burung yang hinggap.

Tak terasa, aku pun sampai di depan gerbang sekolah ku, sebuah SD Inpres. Dulu SD ini sudah hampir ambruk, namun berkat perjuangan Bapak Kepala Sekolah akhirnya SD ini mendapat bantuan dari pemerintah dan berhasil direnovasi. Bangunan baru yang masih bau cat mengisi hariku akhir-akhir ini, semakin menambah semangatku untuk menuntut ilmu. Gedung baru, semangat baru, demikian tekadku dalam hati. Karena jujur saja, ruang kelasku tampak lebih nyaman dibanding rumahku. Warna cat yang cemerlang, ubin yang berwarna putih bersih, dengan jendela kaca yang bening, serta white board tergantung di depan kelas menambah kesempurnaan kelasku yang tercinta ini.

Bel jam pertama pun berbunyi, tanda proses belajar mengajar dimulai. Kami yang duduk di bangku kelas 6 ini berjumlah 35 orang. Ada 21 orang murid laki-laki dan 14 orang murid perempuan. Rata-rata orang tua kami berprofesi sebagai petani dan buruh, meskipun ada juga yang berprofesi menjadi pegawai negeri, bekerja di kantor kelurahan.

Jika di kota-kota besar, anak-anak SD sudah bermain HP, maka di sini bermain congklak dan gobak sodor saja sudah cukup menyenangkan bagi kami. Yang tak kalah seru adalah bermain petak umpet, sungguh menegangkan karena kami harus bisa mencari tempat persembunyian yang aman dalam waktu yang singkat. Rustam, berbadan kecil berkulit agak gelap dengan ramput cepak, adalah anak yang paling jago bermain petak umpet. Dia adalah anak yang paling sulit diketahui tempat persembunyiannya. Pernah suatu kali dia tidak tampak di kelas meskipun jam istirahat sudah selesai. Setelah dicari-cari bersama para guru, ternyata dia tertidur di atas plafon. Aku juga heran bagaimana dia bisa sampai ke atas sana.

***

“Assalamu’alaikum.” terdengar suara dari luar memecah keheningan Minggu pagi itu,

“Wa’alaikumsalam.” jawabku sambil setengah berlari menuju pintu depan. Kubuka pintu, dan tampaklah sesosok lelaki setengah baya, berbadan tegap, berkulit gelap, dengan rambut yang sudah mulai memutih, serta matanya yang dalam menatapku dengan penuh rasa haru, seolah ada sejuta kata yang ingin diucapkannya namun tercekat di tenggorokannya.

“Ri… Rianti….” ucapnya lirih hampir tidak terdengar. Aku hanya terpana, menatap wajahnya tak berkedip, kulihat ada sebongkah kerinduan bergelayut di sana.

“Ba.. Bapak…” aku pun terbata dan bingung mau berkata apa.

Sejurus kemudian laki-laki itu memelukku dengan erat sambil tersedu. Tanpa kusadari mata ini terasa panas, dan meleleh pula air mataku. Tangan ku yang sedari tadi tak bergeming, secara tiba-tiba membalas pelukannya, seolah-olah tak ingin melepaskannya lagi, dan tak ingin ditinggalkannya lagi. Aku tak menyangka, jauh di lubuk hatiku ternyata aku sangat merindukan dirinya, ayahku.

“Lho, sudah sampai tho, Pak?” suara Ibuku mengagetkan kami yang sedang larut dalam kebahagiaan. Bahagia, karena rindu yang selama ini tersimpan telah terlampiaskan.

“Iya, Bu. Baru saja kok. Terus kangen-kangenan sama si bungsu ini lho.” kata ayahku sambil mengusap-usap kepalaku. Percaya tak percaya, sungguh terasa nyaman saat tangan kekar dan kasar itu memegang kepalaku.

“Ya sudah, kalau sudah selesai kangen-kangenannya, mandi dulu, Pak. Itu sudah saya siapkan air hangat untuk mandi, biar pegal-pegal di badan Bapak hilang.” kata Ibu sambil membawakan tas Bapak ke dalam.

Yo wis, Bapak mandi dulu ya, Ndhuk.”

“Nggih, Pak.” jawabku lirih, karena suaraku masih tersesat di antara keharuan dan kebahagiaan.

Selesai mandi, Bapak duduk di beranda sambil menyeruput wedang kopi buatan Ibu. Kakakku Sriyono yang baru pulang dari rumah Pak Dullah terkejut melihat Bapak sudah ada di rumah.

“Bapak!!!” setengah berteriak seraya berlari kecil, kemudian mencium tangan Bapak. Kuperhatikan, Mas Sriyono sekilas mirip dengan Bapak. Dari bentuk muka, rambutnya, dan badannya yang kekar. Hanya matanya saja yang mirip dengan Ibu. Ibu adalah wanita yang bermata sayu. Namun meskipun demikian bukan berarti Ibu wanita yang lemah dan cengeng, beliau adalah wanita yang kuat, bahkan tegas kepada anak-anaknya, terutama ketika mereka melakukan kesalahan.

“Darimana, Le? Tadi pas Bapak sampai kok kamu tidak ada di rumah?” tanya Bapak.

“Tadi dari rumah Pak Dullah, Pak. Katanya ada motor yang harus diambil pemiliknya pagi ini juga, karena akan dipakai buat belanja ke pasar, makanya pagi-pagi sekali saya sudah kesana. Kan, kasihan kalau sudah datang ternyata motornya belum jadi.” kata Mas Sri.

“Sekolahmu gimana? Lancar? Jangan sampai kegiatanmu di bengkel Pak Dullah mengganggu belajarmu lho. Sekolah tetap yang paling utama. Mencari uang itu kan bukan tugasmu, itu tugas Bapak. Biarlah Bapak yang membanting tulang, yang penting anak-anak Bapak bisa menjadi orang, jangan seperti Bapak ini, kerjanya nggak jelas. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja masih dibantu anak-anaknya. Sebenarnya Bapak malu, Le, kalau kamu sampai harus sekolah sambil bekerja.” suara Bapak terdengar bergetar. Aku pun pura-pura membaca buku meskipun percakapan antara Mas Sri dan Bapak dengan jelas terdengar melalui sela-sela dinding  rumah kami yang terbuat dari anyaman bambu.

“Alhamdulillah, Pak. Sekolah saya lancar, lagipula saya membantu Pak Dullah itu selepas pulang sekolah, Pak. Jadi, tidak mengganggu sekolah saya, malah saya merasa terbantu dengan bolehnya saya bekerja di bengkel Pak Dullah. Di sana saya bisa belajar lebih banyak tentang mesin kendaraan bermotor, bahkan banyak hal-hal yang tidak saya dapatkan si sekolah, malah saya dapatkan di Bengkel Pak Dullah.” Mas Sri melanjutkan, “Kalau masalah ekonomi, kita ini kan satu keluarga, Pak. Harus saling bantu membantu. Saya bekerja bukan berarti tidak percaya pada kemampuan Bapak dalam mencukupi kebutuhan keluarga, melainkan saya juga ingin belajar mandiri, Pak. Saya tidak mau terus-terusan menengadahkan tangan saya dan selalu meminta kepada orang tua. Saya ingin jika sudah waktunya kelak, saya siap dan kuat berdiri di atas kaki saya sendiri. Tidak mudah tergantung dengan orang lain.”

“Kalau memang itu sudah menjadi tekadmu, Bapak hanya bisa mendoakan, semoga kamu bisa mendapatkan yang kamu cita-citakan. Bapak bangga punya anak seperti kamu, Le.” kali ini suara Bapak lebih tegar.

“Makasih, Pak. O ya, Bapak sudah tahu kabar tentang Mbak Narti?” tanya Mas Sri.

“Belum, memang ada kabar apa? Bagaimana Mbakyu-mu di sana? Baik-baik saja tho? Bapak tuh sering khawatir kalau mendengar berita tentang TKI di Malaysia yang disiksa sama majikannya. Bapak takut Mbakyu-mu mengalami hal yang serupa. Namanya juga jadi pembantu, wong cilik, pasti kalau ada apa-apa disalahkan lebih dulu.” ada nada penuh kekhawatiran dalam suara Bapak.

“Wah, jangan khawatir, Pak. Bapak jangan berpikir yang tidak-tidak.” imbuh Mas Sri, “Kemarin Mbak Narti kirim surat, katanya sekarang dia sudah pindah tugas, bukan sebagai pembantu rumah tangga lagi, melainkan menjadi baby sitter. Gajinya pun mengalami kenaikan. Mungkin karena majikannya sudah percaya, makanya Mbak Narti diberi tugas menjaga anaknya. Sudah tidak seperti dulu, yang kerjaannya lumayan berat dari bersih-bersih rumah, memasak, setrika, belanja, sampai mencuci mobil. Kerjaanya sekarang hanya mengurusi si kecil. Memenuhi kebutuhannya, dari makan, memandikan, sampai membuatkan susu.”

“Syukurlah kalau begitu. Mudah-mudahan Mbakyu-mu senantiasa diberi kemudahan, perlindungan serta kebaikan oleh Allah di dalam hidupnya.”, kata Bapak.

“Amiin…” kami berdua menyahut hampir bersamaan.

***

Bersambung

2 thoughts on “Cinta Itu Ada (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s