Cerber : Cinta Itu Ada (1)

Mencoba menulis sebuah cerita bertemakan keluarga dan kesederhanaan yang merupakan realita yang  kerap terjadi di dalam kehidupan masyarakat kita. Semoga dapat dipetik pelajaran serta menjadi cermin bagi kita agar dapat lebih bersyukur dan peduli kepada lingkungan di sekitar kita. Semua nama dalam cerita ini hanyalah rekaan belaka, jika ada kesamaan maka itu bukan karena adanya unsur kesengajaan.

Kerinduan Yang Terobati

 

 

Kerinduan

 

Kokok ayam jantan milik Mbah yang lantang telah membuatku terjaga dari mimpi-mimpi indahku. Bergegas kuambil air wudhu, kemudian bersimpuh di hadapan-Nya. Tak lama kemudian aku menyusul Ibu ke dapur yang ternyata sudah bangun lebih dulu daripada aku. Memang kuakui Ibuku wanita yang tangguh, meskipun membesarkan anak-anaknya seorang diri, namun beliau begitu tegar dan kuat. Jika aku berada di posisinya, entahlah apakah aku mampu atau tidak.

Lalu ke mana ayahku? Beliau sedang mengadu nasib ke Ibu Kota semenjak aku berumur 4 tahun. Kami bertemu paling banyak 2 kali setahun. Biasanya beliau pulang pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Karena jarang bertemu, maka aku pun tak punya gambaran yang jelas tentang beliau. Aku hanya bisa membayangkan sosoknya melalui cerita-cerita Ibu. Seringkali ketika ayah pulang malah seperti orang asing bagiku, meskipun aku tahu beliau tetap berusaha akrab dengan anak-anaknya.

Mungkin karena aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, sehingga aku menjadi sedikit manja. Terkadang aku menuntut perhatian  lebih dari kakak-kakakku dan Ibuku. Kakak tertuaku, Sunarti, kini sedang menjadi TKI ke Malaysia. Karena sebagai anak tertua yang merasa memiliki kewajiban membantu orang tua, maka selepas SMA dia memutuskan untuk menjadi TKI di negeri Jiran tersebut. Setiap bulan dia mengirimi Ibu uang, hasil dari menyisihkan sebagian gajinya di sana. Uang hasil kiriman tersebut biasanya masuk ke pos pengeluaran untuk biaya sekolahku dan kakakku yang kedua.

Kakak keduaku adalah mas Sriyono, yang kini duduk di bangku SMK (dulunya STM) kelas 2 jurusan otomotif. Untuk membantu keluarga, terkadang dia ikut bekerja di bengkel milik tetangga kami Pak Dullah sepulang sekolah. Hasilnya lumayan, bisa buat menambah uang belanja Ibu. Secara finansial sebenarnya keluarga kami jauh dari mapan. Uang kiriman ayah tak tentu datangnya, bisa sebulan sekali namun tak jarang 3 bulan sekali baru beliau kirimkan.

Sedangkan si bungsu, yang tak lain adalah aku, bisanya hanya merepotkan. Yang ada di otakku hanya sekolah, main, dan belajar. Yah, meskipun kadang-kadang aku juga membantu Ibu di dapur. Aku belum mengerti soal kesulitan dan kebutuhan hidup sebagaimana kakak-kakakku.

Kami tinggal di rumah Mbah, karena memang selain keluarga kami belum cukup mampu untuk membeli rumah sendiri, juga sekalian kami menjaga Mbah yang sudah berusia senja, demikian Ibu selalu menjelaskan padaku.

“Kamu sudah bangun tho, Ndhuk?” Ibu bertanya padaku sambil tangannya mencuci beras yang akan ditanak untuk sarapan kami.

“Iya, Bu. Ada yang bisa kubantu, Bu?” kepalaku celingak celinguk mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa kukerjakan.

“Itu, tolong ambilkan daun singkong di atas bangku, sekalian dicuci ya, Ndhuk. Nanti mau Ibu rebus buat lalapan.” seraya tangan Ibu menunjuk seikat daun singkong di atas bangku dapur. Lalu aku pun segera mengambil dan mencucinya.

Ndhuk, sebentar lagi kan Idul Adha, biasanya Bapakmu pulang lho.” Ibu menatapku dengan mata yang berbinar. Tampak terpancar kebahagiaan di sana, karena sebentar lagi akan bertemu dengan belahan jiwanya.

“Oh, begitu ya, Bu?” tanyaku dengan nada datar. Aku tak tahu harus bagaimana, karena memang aku tidak terlalu dekat dengan ayahku. Jadi ketika mendengar beliau mau pulang juga biasa saja.

“Lho kok cuma begitu? Bukannya kamu senang kalau Bapakmu pulang?” Ibuku penasaran karena respon yang didapatnya tidak seperti yang dibayangkan.

“Ya senang dong, Bu. Kan, kita sudah lama tidak ketemu Bapak.” jawabku sambil tersenyum untuk menenangkan Ibuku.

“Bu, daun singkongnya sudah kucuci, kutaruh di sini ya, Bu?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Iya, taruh di situ saja. Ya sudah sana, kamu mandi dulu, siap-siap ke sekolah, nanti ndak kesiangan.” Ibu mengingatkanku.

Nggih Bu. Kalau begitu saya mandi dulu, ya.” aku pun segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.

***

Bersambung

6 thoughts on “Cerber : Cinta Itu Ada (1)

  1. wheeww… salut sama orang2 yang bisa menuangkan hasil pikirannya menjadi tulisan, cerita, novel apapun lah bentuknya tapi melalui tulisan.. ;D hehe

    Lanjut mas, aku tunggu kelanjutannya

    soalnya aku susah banget kalo mau nulis2 ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s