Terumbu Karang Yang Semakin Berkurang

Waktu itu hari sudah mulai senja ketika aku menaiki sebuah bus kota. Awalnya suasana begitu membosankan, tidak ada hal yang menarik. Duduk pun aku di atas mesin di sebelah sopir, sungguh tidak nyaman. Ditambah lagi kondisi bus yang penuh sesak, bercampur antara bau keringat dan aroma parfum yang sudah mulai pudar ditambah bau solar yang terasa menyengat hidung.

Sudah terbayang di benakku wajah anak dan istri yang sedang menunggu di rumah. Pasti mereka sedang menonton video khusus anak-anak Baby Brain, yang membahas tentang berbagai macam hal dari musik sampai binatang di sekitar kita. Anakku senang sekali menonton film tersebut, bahkan sampai 3 kali diputar pun tak akan bosan.

Lamunanku pecah tatkala kondektur meminta ongkos kepadaku. Kuserahkan satu lembar uang 10 ribuan yang sudah lusuh, dan akupun diberikan selembar uang seribuan yang masih agak bagus. Dari logatnya aku tahu dia ini dari daerah Jawa, meskipun ketika berbicara dengan sang sopir dia berusaha berbahasa Sunda. Dia pun berusaha menyeruak di antara kerumunan penumpang yang berjejal-jejal tidak keruan untuk menarik ongkos mereka.

Saat melintas daerah Cawang, kondektur itu pun sudah kembali ke depan, dan berdiri di sampingku. Seperti biasa, obrolan diawali dengan pertanyaan , “Rumahnya di mana, Mas?”

Aku pun menjawab, “Cikarang, Mas. Graha Asri.”

Lalu kami pun terlibat dalam obrolan basa basi yang panjang mengenai sepak bola di tanah air yang semakin memprihatinkan ini. Karena penasaran aku pun bertanya, “Asalnya dari mana, Mas?”

“Saya dari Magelang, Mas.” jawabnya. Lalu dia pun bertanya kepadaku dari mana asalku.

“Dari Semarang, Mas. Udah lama di Jakarta ya, Mas?” tanyaku.

“Baru 3 tahun, Mas. Itu saja langsung jadi kondektur bus.” jelasnya.

“Sebelumnya di mana, Mas?”, tanyaku setengah menyelidik.

“Saya dulu kerja di Bali. Jadi penyelam gitu. Tapi sayang saya dulu bodo tidak mau mengambil sertifikat menyelam, padahal kalo punya itu saya mungkin gak jadi kondektur seperti sekarang ini.” diapun menceritakannya pengalamannya.

Wow, penyelam? Pikirku. Sayang sekali bila dia harus berakhir di bus kota seperti sekarang ini. Skill seperti penyelam sangat unik dan “menjual”, menurutku. Seandainya saja dia punya sertifikat, dia pasti bisa melatih para wisatawan asing yang ingin belajar menyelam di pulau Dewata itu dan meraup pundi-pundi dolar.

“Trus, cuma menyelam saja, Mas? Kan biaya sewa peralatannya mahal, to?” aku bertanya karena rasa penasaranku bertambah.

Dia pun mulai bercerita, “Saya dulu menyelam untuk mengambil terumbu karang, Mas. Terumbu karang tersebut kemudian di ekspor ke luar negeri.”

Deg!!! Jantungku serasa berhenti berdegup. Terumbu karang yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa kita karena keindahannya, ternyata digerogoti oleh rakyatnya sendiri. Aku pun nyaris tak bisa berkata apa-apa. Suaraku terasa tercekat di tenggorokan. Untungnya aku segera sadar, dan menjadi lebih ingin tahu lagi.

 

Terumbu Karang yang Indah

 

“Itu legal apa ilegal, Mas?” tanyaku memberanikan diri, karena takut menyinggung perasaannya.

“Ya jelas ilegal lah, Mas. Pokoknya kita ambilin aja tuh terumbu karangnya, lalu kalo sudah terkumpul, kita kirim keluar.” dia menceritakannya tanpa rasa canggung sama sekali.

“Lalu kalo ilegal, bagaimana pengirimannya, Mas? Pasti kalau mau ekspor kan harus pake surat-surat, to?” aku semakin penasaran. Lalu aku pun melanjutkan pertanyaanku, “Itu bosnya perorangan, atau di bawah bendera sebuah PT?”

“Saya dulu bekerja di bawah bendera PT, Mas. Kalau masalah pengiriman, itu bisa diatur. Caranya adalah dengan menyisipkan terumbu karang yang ilegal itu ke dalam pengiriman yang resmi. Jadi, sedikit demi sedikit, disisipkan ke dalam kemasannya, Mas. Nanti sampai di tujuan baru dipisah-pisahkan.” terangnya.

“Lho, ternyata ada yang dikirim secara legal juga ya, Mas? Emang buat apa? Lalu yang ilegal itu buat apa, Mas? Pangsa pasarnya siapa?” aku kembali bertanya. Wah, aku tidak menyangka mendengar langsung pengakuan dari seorang pengambil terumbu karang ilegal.

Kondektur itu pun kembali melanjutkan ceritanya, “Kalau yang legal itu mau dibuat untuk pembibitan, Mas. Jadi di tempat tujuannya nanti untuk peremajaan terumbu karang. Nah kalau yang ilegal itu, nantinya dipakai untuk hiasan direstoran-restoran mewah, yang mengambil tema Marine / Kelautan. Harga yang ditawarkan juga sangat tinggi, Mas. Mereka rela membayar mahal hanya untuk keindahan dan membuat kesan restoran mereka sebagai restoran yang “berkelas”.”

“Saya baru tahu itu, Mas. Maklum saya ini kelasnya Warteg, tidak pernah makan di restoran mewah. Padahal sebenarnya kalau restoran itu yang dijual kan makanannya ya? Tapi rela membayar mahal untuk hiasan dan ornamennya saja. Benar-benar aneh….” aku pun berusaha mencairkan suasana, agar tidak terlalu tegang dan terkesan menginterogasi, he..he..he..🙂

“Saya juga bingung, Mas. Mungkin mereka sudah kebingungan untuk menghabiskan duit mereka, ya?” dia bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lalu, terumbu karang yang sudah diambil, ada peremajaannya lagi tidak, Mas? Kalau diambil terus-terusan, kan bisa habis?” aku kembali ke pokok pembicaraan.

“Kalau yang diambil secara legal itu, nantinya diremajakan lagi, Mas. Tapi kalau yang ilegal, ya diambil begitu saja, tanpa ada peremajaan. Ya, memang lama-lama memang bisa habis. Kan pada prisnsipnya tuh kita menguras, Mas.” dia pun menambahkan, “Padahal, untuk tumbuh sepanjang 1 cm saja butuh waktu sekitar 3 tahun, Mas. Jadi bisa dibayangkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menjadi seperti yang kita lihat di perairan Bunaken.”

 

Small Coral

 

 

Broken Coral

 

“Oooo…” kali ini aku benar-benar speechless. Aku bingung mau berbicara apa lagi. Aku hanya bisa tenggelam ke dalam pikiranku. Sudah tahu untuk meremajakan butuh waktu lama, tapi mengapa pengambilan secara ilegal tetap saja dilakukan. Terkadang keserakahan membuat manusia rela melakukan apa saja tanpa memikirkan akibatnya. Pernahkah kita berpikir, akan jadi apa bumi kita ini ke depan jika kita tidak memiliki kesadaran untuk melestarikan apa yang sudah ada. Namun, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat kita masih jauh dari sejahtera, boro-boro memikirkan pelestarian lingkungan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sulit, aku jadi bingung juga.

Inilah yang menjadi PR bagi kita semua, saya, Anda, dan mereka, bagaimana caranya kita bisa tetap menjaga lingkungan sekitar agar tetap lestari, namun di sisi lain masih ada masalah kesejahteraan yang belum terentaskan. Kerusakan-kerusakan yang timbul saat ini, khususnya di Indonesia, adalah karena masih rendah dan belum meratanya tingkat kesejahteraan dan pendidikan di negara kita, yang akhirnya memaksa masyarakat melakukan sesuatu yang mungkin berpotensi merusak lingkungan meskipun tanpa mereka sadari. Mudah-mudahan pemerintah memiliki solusi yang lebih baik, dan ke depannya negara kita bisa menjadi lebih baik serta bangkit dari keterpurukannya.

Tak terasa, bus yang aku tumpangi sudah hampir sampai di pintu gerbang perumahanku, yang berarti aku harus segera turun dan say goodbye ke kondektur yang sudah bersedia berbagi cerita yang tidak akan pernah aku lupakan. Selanjutnya aku pun segera mengambil motorku di penitipan, dan pulang ke rumah dengan pikiran yang masih berkecamuk. (eits, yang ini jangan dicontoh, Berbahaya!!!🙂 )

 

Naik motor

 

(maaf, gambarnya sedikit lebay)

Artikel ini diikutsertakan dalam Beat Blog Writing Contest, mohon dukungannya yah….:mrgreen:

 


8 thoughts on “Terumbu Karang Yang Semakin Berkurang

  1. Alhamdulillah sekarang dah mulai peka lingkungan ya, sampai2 “nyaris tak bisa berkata apa-apa”…mendapatkan informasi/pelajaran dari kawula alit yang sangat berharga.
    BTW, perumahanmu wis ono bis to pek?mulai kapan?

  2. sepertinya dia ga paham n kurang cinta sm negeri indah ini.. perusak dari negeri sendiri..😦
    seandainya saja ada relawan yang mw memberikan ‘diklat’ khusus supaya masyarakat punya merah putih dihatinya masing2, mungkin bisa menyadarkan bahwa masih byk yang harus dijaga daripada sekedar makam mbah pri**😀

  3. hooo iya kondekturnya ngomon tanpa dosa.. sadar ga c tanpa terumbu karang ga da yang nahan kalau ada gelombang besar.. sama aja bunuh diri.. dan menenggelamkan Indonesia.. Bisa2 nanti bisa kaya kisah Atlntis yang ga tw Atlantis ada atau ga..

    semoga semakin banyak yg sadar atas alam..🙂

  4. @Aisyah Muna : Thank’s a lot.

    @Abu Filza : Ya iyalah, Pe. Bumi sudah semakin tua, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi. Selain itu, belajar bergaul dengan kawulo alit kan ya dari dirimu to???😉

    @aiwulfric : Yah, mungkin itu karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran untuk mencintai lingkungan. Relawan? Mungkin mulai dari diri kita, keluarga dan lingkungan terdekat kali ya???🙂

    @Nitnot : Betul, mungkin dia emang belum ngerti, yah mudah-mudahan semakin banyak masyarakat kita yang sadar untuk lebih menjaga lingkungan, dan semoga kiprah kita di dunia per-blogging-an ini bisa membantu hal tersebut.

  5. Bukan cuma buat ekspor mas yg ngrusak terumbu karang itu… buat menuhin libido orang2 kaya indonesia yang pengen punya terumbu karang di rumah juga menjadi faktor masih banyaknya perburuan terumbu karang ilegel ini.

    Yng ngrusak itu orang atau duit ya ?

  6. Pingback: Network Gathering By VHR Media « Another Star Zone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s