Bangsa Yang (Katanya) Berbudaya

Bangsaku, Indonesia, katanya adalah bangsa yang kaya akan budaya. Hal ini bisa dilihat dari Sabang sampai Merauke, beraneka ragam seni, adat dan istiadat mengisi kekayaan khazanah budaya bangsa Indonesia. Bahkan di dalam satu propinsi pun mungkin terdapat beberapa kebudayaan yang berbeda, sungguh luar biasa.

Akan tetapi, apakah kekayaan budaya ini akan mencerminkan bangsaku sebagai bangsa yang berbudaya? Jawabku: Belum tentu!!!

Kita boleh berbangga dengan kekayaan budaya yang kita miliki, tetapi yang paling menentukan adalah bagaimana perilaku kita sehari-hari. Sesungguhnya, itulah budaya kita yang sebenarnya, mengapa? Karena apa yang dikatakan orang dengan kekayaan budaya itu sesungguhnya milik nenek moyang kita, hasil dari cipta rasa dan karsa mereka di masa lampau yang masih terekam keberadaannya oleh kita hingga saat ini.

Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana dengan budaya kita, yang hidup di masa kini? Untuk menjawab ini, akan dijelaskan sebagai berikut. Untuk melakukan sesuatu kita biasanya berpikir terlebih dahulu (kecuali pada orang-orang tertentu) atau untuk selanjutnya bisa kita sebut mind set. Mind set ini adalah kecenderungan cara berpikir seseorang terhadap sesuatu atau ketika akan melakukan sesuatu. Setelah itu kita akan melakukan tindakan. Nah, tindakan yang berulang-ulang ini akan menjadi kebiasaan. Akhirnya, kebiasaan yang sama yang dilakukan oleh banyak orang dapat disebut budaya.

Saya cukup prihatin dengan budaya bangsa kita saat ini. Hal ini saya lihat dan alami sendiri ketika sedang antri di loket bus Damri di Stasiun Jatinegara. Masih banyak dari saudara sebangsa kita yang belum bisa menghargai orang lain. Mereka terlalu memikirkan diri mereka sendiri dan mengesampingkan orang lain dan aturan yang berlaku (ini yang disebut dengan mind set). Tindakan main srobot adalah tindakan yang sangat memalukan, ditambah yang berbuat ini tidak punya malu dan malah merasa tidak bersalah (benar-benar tebal mukanya, kaya tembok), apalagi kalau sampai dilihat oleh orang-orang dari negara lain. Paling dalam hati mereka akan berkata, “Pantas bangsa ini gak maju-maju, orang warga negaranya saja semrawut dan gak bisa diatur kaya gitu.”

Serius, hal ini merupakan hal yang sepele tapi buruk sekali. Karena di balik budaya Antri sebenarnya terkandung makna yang sangat dalam, yaitu saling menghormati, baik sesama manusia maupun terhadap aturan yang berlaku. Dari sini bisa dilihat sejauh mana tingkat kebudayaan suatu bangsa. Jadi ketika hal ini Anda lakukan di luar negeri, maka orang-orang akan berkata, “Are you from Indonesia?” Silahkan pahami maksud pertanyaan tadi. Kita sudah mempunyai image buruk dalam hal antri.

Kita tidak akan menemui orang-orang Jepang saling berebut dalam sebuah antrian. Mereka secara otomatis akan membentuk sebuah barisan secara tertib, dan menunggu giliran dengan sabar. Selain mereka memiliki kesadaran yang tinggi, mereka juga punya sikap lain yaitu MALU. Mereka malu dengan diri mereka dan saudara mereka jika harus menyerobot dan memotong antrian, menerobos lampu merah, membuang sampah sembarangan, dsb.

Jadi, untuk menjadi bangsa yang besar, haruslah menjadi bangsa yang berbudaya terlebih dahulu. Jika kita sudah menjadi bangsa yang berbudaya, maka kebesaran akan mengikuti kita dengan sendirinya. Tidak perlu kita menyerukan ganyang Mal**sia, sweeping warga Mal**sia, berdemo dengan mengeluarkan kata-kata kotor dan umpatan, karena hal itu malah akan membuat kita semakin terperosok ke dalam lembah kehinaan yang lebih dalam lagi. Kita akan dipandang sebagai bangsa barbar yang tidak punya etika, dan tidak berbudaya. Dan ketika kita memiliki image seperti itu, masih layakkah kita mengklaim budaya nenek moyang kita, sementara kelakuan kita masih seperti itu?

Marilah kita ubah hal itu sedini mungkin, dari hal yang kecil, dari diri kita sendiri, kemudian beranjak pada lingkungan terkecil yaitu keluarga. Berikanlah contoh pada anak-anak kita, ingatlah : CHILDREN SEE, CHILDREN DO. Mulai ubah mind set (pola pikir) kita, untuk lebih dapat menghargai dan menghormati orang lain. Milikilah budaya Malu, apalagi ketika berbuat yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Lalu implementasikan dalam tindakan, dan buatlah halitu menjadi kebiasaan, lalu tularkan kepada orang-orang di sekitar Anda. Mudah-mudahan dari dua hal kecil di atas dapat menjadikan kita, lingkungan kita, serta bangsa kita menjdai bangsa yang lebih berbudaya, sehingga tidak dipandang remeh lagi oleh bangsa lain.

6 thoughts on “Bangsa Yang (Katanya) Berbudaya

  1. Hahaha, budaya saya sih tetep jawa. Ojo kagetan. Yang bapak sebut diatas memang terbukti. Kalau menurut angle 5, budaya tadi terjadi juga akibat budaya lain. Kenapa orang ngebut? Karena takut terlambat, kenapa takut? Karena bangunya kesiangan, kenapa ksiangan? Karena begadang, kenapa begadang? Karena… Dan seterusnya. Jadi pasti sebab akibat saja semuanya.
    Kenapa orang gak mau antre? Karena gak sabar, kenapa gak sabar? Jawabnya: karena terlahir memang sudah tidak sabar dari sono nya. So, Sampian gak usah kaget. Maklum aja, tapi solusinya apa? Begini. Budaya itu sebanding ama pengetahuan. Itu saja kok. analoginya begini. Dulu orang yang ngerti, ahli, ibarat pentium 2. Tapi sekarang udah ada pentium 4, apalagi dual core sampai core 2 duo, tapi apa? Orang2nya masih banyak yang mikirnya sekelas 486. Lambat bro. Maaf, tapi seharusnya mereka mengikuti budaya baru donk. Budaya tertib, budaya cepat, budaya tepat, bukan menyamakan dgn mesin, tapi hardisk dan memory orang itu mustinya gampang di upgrade. Maka bersyukurlah, kalau masih banyak rekan kita yang mau upgrade budaya.

    • Yah semoga kita dan generasi muda lainnya bisa mulai sadar dan mampu menjadi trigger untuk sebuah perubahan yang lebih baik.

  2. hhhmmmm….. menarik, sebuah tulisan yang sebenarnya merupakan pengingat bahwa dalam setiap gerak dan langkah bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pattern tersendiri yang apabila di laksanakan akan sangat indah untuk dilihat
    Tapi musti di-ingat bro, apa yang terjadi sekarang adalah refleksi dari budaya masyarakat indonesia yang ada sekarang, baik ato nggak… bener ato salah,… as you said, tugas kita sekarang mendidik generasi – generasi berikutnya
    Jangan lupa, budaya yang luhur itu di wariskan dari Jaman Sriwijaya ke Majapahit hingga ke Demak. Namun jo salah le, bangsa kita tertindas 3.5 abad oleh kebiadapan kolonilisme dan imperialisme Barat. jadi refleksi dari penindasan itulah yang tersasa hingga sekarang. Bayangka saya hampir 7 generasi bangsa ini tertindas dan di paksa untuk berebut dengan sesamanya untuk kelangsungan hidup. Jadi untuk mengubah itu,… sekali lagi bukan perkara yang bisa cepat untuk dilaksanakan. musti stepping dengan konsep yang ente sebut Hildren See, Children Do. Taoi ingat…. kita juga produk gagal dari generasi sebelumnya, so… perbuat yang terbaik untuk kelangsungan generasi mendatang. ( amin )

    • Wah, brilian sekali, Children see Children do. Hmm.. saya suka itu, tugas kita sebagai pencetak generasi penesrus memang memegang peranan penting. So, berusahalah untuk senantiasa memberikan contoh yang terbaik kepada putra-putri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s