Ketika Tetangga Berulah Lagi

Tetangga kita yang satu ini gak habis-habisnya mengusik ketenangan dan kedamaian dengan Indonesia. Entah itu karena gak sengaja atau emang karena sirik. Selalu mengaku saudara satu rumpun tetapi kelakuannya selalu menikam dari belakang.

Kalau dulu pernah mengklaim lagu Rasa Sayange dari sana, kemudian Tari Reog juga berasal dari sana, serta kerajinan Batik juuuugaaaa diakui milik mereka, kini mereka juga berulah dengan mengklaim Tari Pendet milik mereka, dengan menyertakan foto Tari Pendet dalam salah satu iklan wisata mereka. Dan yang lebih parah lagi, video tersebut diawali dengan gambar tokoh Bima dalam wayang kulit, apa nggak edan ini? Masa di Malaysia ada wayang kulit? Orang bahasanya aja beda kok mau ngaku ngaku….

Selain masalah kebudayaan, mereka juga sering bermain-main dengan batas wilayah kita. Setelah berhasil mencaplok Simpadan dan Ligitan, kini mereka bernafsu untuk menguasai blok Ambalat. Untung pemerintah dalam hal ini cepat tanggap dengan memperkuat barisan pasukan di sekitar wilayah tersebut. Walaupun dengan segala keterbatasannya, saya salut kepada Angkatan Laut RI yang bersedia membela Kedaulatan Ibu Pertiwi hingga tetes darah penghabisan. NKRI Harga Mati!!!!

Dalam peperangan, yang menentukan bukan hanya persenjataan, tetapi strategi juga memiliki peranan penting. Karena itu kita gak boleh gentar sama persenjataan mereka yang lebih bagus daripada punya kita. Tetapi harus diingat, tentara kita lebih terlatih dan memiliki mental yang lebih kuat dan lebih mampu survive dalam kondisi yang sesulit apapun. Kita merdeka bukan karena dikasih, Betul? Kita merdeka karena perjuangan kita sendiri, jadi jangan sampai kedaulatan kita dinjak-injak oleh bangsa yang untuk merdeka saja harus dikasihani.

Tidak puas sampai di situ, eh mereka malah mencoba memancing amarah bangsa Indonesia dengan membuat plesetan Lagu Indonesia Raya. Lagu kebangsaan kita itu dibuat plesetan dengan kata-kata yang saya rasa tidak patut untuk saya tulis di sini. Ketika saya membaca pun hati saya menjadi panas. Hmmm… emang perlu diberi pelajaran nih tetangga yang satu ini.

Dan untuk masalah TKI, ini yang paling sering menjadi sorotan, karena andai kau tahu teman, TKI kita disana sesungguhnya tidak dihargai, mereka dianggap semacam budak di kehidupan para Nabi dulu. Mereka menyebut bangsa kita dengan sebutan orang Indon, ini untuk menjelaskan betapa hinanya kita di hadapan mereka. TKI kita sering sekali mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Tidak hanya dilakukan antara majikan dan pembantunya, tetapi juga oleh aparat mereka kepada TKI kita terutama yang ilegal.

Saya pikir sudah cukup kita diperlakukan secara tidak senonoh oleh mereka, pemerintah harus memberi batasan yang tegas dalam hubungan diplomasi dengan mereka. Jangan terlalu lunak, karena lama-lama nanti mereka ngelunjak. Hubungan diplomasi antar negara memang penting, tetapi bukankah lebih penting lagi kedaulatan serta harkat dan martabat bangsa Indonesia, betul? Untuk masalah TKI haruslah menjadi perhatian utama, kalo bisa berikan kepada mereka jaminan kepastian hukum di negara tempat mereka bekerja. Jangan sampai mereka dihinakan dan tidak dihargai. Mereka adalah saudara-saudara kita, betul?

Bagi kita semua, hendaknya kita instropeksi diri,mengapa kita selalu dianggap lebih rendah dari mereka? Apakah memang demikian keadaan kita? Karena itu mari kita perbaiki diri kita supaya menjadi lebih berkualitas dan lebih berbudaya, sehingga tidak lagi diremehkan oleh bangsa lain. Bagaimana tidak akan diremehkan oleh bangsa lain, wong peraturan di negara sendiri saja diremehkan, ya nggak? Makanya dari sekarang mulai dari yang kecil, kita harus belajar menghargai diri sendiri dan orang lain, serta saling menghormati satu sama lain. Kita buktikan kalo kita bukan bangsa bar-bar seperti yang mereka tuduhkan, kita juga bangsa yang berbudaya. Dan cintailah budaya kita sendiri, jangan mudah terpengaruh oleh budaya asing yang kelihatan keren, tetapi sesungguhnya membawa pengaruh buruk. Junjunglah budaya nasional, cintailah produk dalam negeri, banggalah menjadi bangsa Indonesia, karena kita bangsa yang (pernah) besar dan jaya. (maka akan kita biarkan kata “pernah” untuk selalu berada di sana? Jika tidak, maka tunjukkanlah merah putih-mu dalam segala bidang.) MERDEKA!!!!

One thought on “Ketika Tetangga Berulah Lagi

  1. Mungkin memang pantas, jika tetangga ber ulah. Dan Bangsa ini memang pantas di usil in. Kenapa? Karena sense of unity nya kurang. Maaf- generasi muda kita banyak yg sibuk pacaran.- boro2 mikir bangsa. Gak sempet bro.
    So, at least kita perlu panutan. Rakyat gak punya panutan, jadi mindsetnya ya yg sebatas nalar mereka saja. So, pantas saja melempem, musicnya melo sich. Jadi gak sangar blas. Unfight. Btw, perlu turbocharge agar bangsa lebih cepat mengejar ketertinggalan, kalo ngandelin generasi melo, gak bakal maju. Karena presnelengnya cuma ada netral dan mundur. Peace ah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s