Buat renungan kita semua: Sajadah Panjang

sholat

Bukan bermaksud menggurui, hanya saja ketika mendengar lagu ini dan mendengar dan meresapi liriknya dalam-dalam, jadi pengen nangis. :cry:
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
 
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi
 
Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba
 
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

Critics Won’t Kill You!!!

Keripik pedas

Keripik pedas memang enak rasanya, tetapi beda halnya dengan kritik pedas. Tidak semua orang dapat menerima kritikan dari orang lain. Jka kita cermati, reaksi orang akan bermacam-macam ketika dikritik.Adayang ofensif, defensif, ataupun menjadi temperamental, tergantung pada sejauh mana ketenangan psikologis masing-masing.

Apa reaksi pertama kita ketika ada orang lain yang komplain karena proses kita yang dinilainya lambat? Apa respon pertama kita saat atasan mempertanyakan hasil kerja yang menurutnya belum sesuai harapan? Dan bagaimana sikap kita ketika orang lain menjelek-jelekkan dan menjatuhkan reputasi kita meskipun kenyataannya tidak demikian? Kritik yang pedas maupun yang konstruktif, yang benar maupun yang fitnah pasti akan membuat darah kita mendidih. Terkadang kita sudah merasa bekerja secara mati-matian namun orang lain dengan entengnya melontarkan kritik. Rasa kecewa, sedih, sakit hati, bahkan marah terkadang menjadi respon pertama kita. Maka, bila tidak pandai dalam menyikapi kritik, bisa-bisa kritik justru akan membuat reputasi kita betul-betul merosot.

kritik pedas

Orang yang paling pandai, paling ahli, dan paling bekeja keras pun tidak akan luput dari yang namanya kritik. Ketika kita masih dalam taraf belajar, tahap mencoba, biasanya kita lebih bisa menyikapi kritik secara bijak dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran. Namun, ketika kita sudah bekerja keras, dan sudah merasa mampu akan suatu hal, maka ketika kita mendapat kritik, hal itu akan dirasa lebih menyakitkan, dan seolah-olah orang lain berniat untuk menyudutkan kita. Nah, hal semacam inilah yang harus kita waspadai.

Kita harus sadar bahwa kritik dari orang lain sangatlah penting agar kualitas pribadi kita dapat terus meningkat. Sebagai contoh, sebuah perusahaan terkadang rela menganggarkan budget untuk melakukan riset mengenai posisi perusahaan dibandingkan dengan  para kompetitornya. Dan ketika hasil riset tersebut menunjukkan bahwa posisinya jauh berada di bawah kompetitornya, apakah lantas kita menyalahkan pihak yang melaksanakan riset? Lalu apa gunanya riset tersebut kalau begitu? Tentunya berdasarkan hasil riset tersebut, perusahaan akan berbenah diri agar dapat lebih baik lagi dan lebih kompetitif dibandingkan rivalnya.

Ibarat pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpa” Seperti itulah kira-kira gambaran kritik. Jadi agar mental kita lebih siap dalam menerima kritik ada beberapa tips yang akan coba saya sharing. Dalam hal ini, saya belum tentu benar 100 % tetapi mungkin dengan tips yang saya bagikan ini dapat membantu kita menjadi lebih siap dalam menerima kritik.

Continue reading

Penghuni Baru

Di posting sebelumnya saya pernah menulis, bahwa banyak yang terjadi dalam hidup saya, baik yang menyenangkan maupun tidak. Untuk kali ini saya coba menuliskan hal-hal yang menyenangkan, ringan, dan tidak terlalu penting juga sih sebenarnya. Sekitar enam bulan yang lalu penghuni rumah kami bertambah. Siapakah mereka? Mereka adalah si imut dan gempal Cenut dan Cenit (terinspirasi dari lagunya SM#SH).

Awal mulanya adalah ketika saya sedang membersihkan segala sesuatu yang teronggok di samping rumah, saya mendengar suara ciit…ciit..ciit… dari dalam karung yang berisi pupuk kandang. Wah, ada tikusnya nih (langsung ‘agak’ panik :oops: ). Segera saya ambil sepotong kayu, saya tusuk-tusuk dengan sekuat tenaga sampai suara itu tidak terdengar lagi. (wah sadis!!! :mrgreen: ) Setelah tidak ada suara, saya bawa karungnya ke jalan, lalu saya tuang isinya, WOW!!! ternyata ada 4 anak tikus curut di situ, (agak bergidik, bulu kuduk berdiri semua) Dua diantaranya sudah mati namun yang dua lagi masih hidup :cry:

Ketika akan dibuang, putri saya bertanya, “Itu apa, Pak?”

“Anak tikus curut, mau Bapak buang.”

“Mau liat, Pak. Jangan dibuang dulu!” pintanya dengan nada sedikit merajuk.

“Duh, mau buat apa? Kan jorok, bau lagi!” jawab saya, berharap supaya dia mengurungkan niatnya.

Tapi saya tidak berhasil. Akhirnya saya masukkan ke dalam plastik, dan diletakkan di teras. Ternyata Nasywa tertarik bunyinya, karena ketika plastiknya disenggol, anak tikus itu langsung mendecit, cit… cit… cit…

Untuk mengalihkan perhatiannya, akhirnya saya memberikan penawaran, “Mbak Nasywa, memangnya pengen binatang peliharaan ya?”

“Iya, Pak. Mbak Awa mau!!!” jawabnya dengan mata yang berbinar-binar.

“Ya sudah, kalo gitu nanti habis bobo siang kita jalan-jalan cari binatang peliharaan ya? Tapi ini anak tikusnya Bapak buang, gimana? Boleh?”

“Boleh, Pak. Tapi nanti sore jangan lupa ya…”

“Oke!!!” saya pun tersenyum puas. Akhirnya anak tikus itu bisa saya buang. (hiii…. Geuleuh!!!)

Cenut Cenit si Guinea Pig 1

Continue reading

Lagu Buat Bapak

Sudah lama tidak menampakkan diri, menghilang dari peredaran, “hiatus” kalo boleh saya pinjam istilah dari aiwulfric :mrgreen: . Namun di balik itu banyak sekali yang terjadi dalam hidup saya, baik yang mengenakkan maupun menyedihkan. Begitu banyaknya peristiwa yang terjadi, sampai-sampai saya bingung mau menulis dari mana.

Yang paling menyesakkan adalah ketika saya harus kehilangan seorang Bapak. Yah, beliau telah berpulang ke haribaan Illahi, tanpa pesan, tanpa firasat, tanpa pamit. Berita itu sangat mengejutkan, menyentak, dan mengoyak jiwa serta perasaan. Saya tidak menyangka akan ditinggal Bapak dalam waktu yang secepat ini. Yang dapat saya lakukan kini hanya berdoa, semoga beliau mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya. Tadinya berat sekali menulis tentang perasaan ini, namun akhirnya saya mampu menuangkannya ke dalam untaian kata meskipun bukan di sini, melainkan di rumah sebelah.

Ketika berbicara mengenai sosok seorang Bapak, banyak yang ingin diungkapkan namun seringkali tercekat di kerongkongan. Bapak saya bukanlah orang yang senang menasehati, namun dari beliau saya tahu akan nilai-nilai kehidupan. Dengan memperhatikan keseharian beliau, saya belajar kejujuran karena beliau adalah orang yang tidak neko-neko. Hidupnya lurus-lurus dan polos-polos saja, tidak pernah terlibat intrik dan muslihat. Bersama beliau saya belajar yang namanya kesederhanaan dan kesahajaan, tidak pernah hidup yang bermewah-mewah, karena beliau yakin harta benda dan sebagainya tidak akan dibawa mati. :cry:

Saat kami duduk bersama, kami malah membicarakan hal-hal yang tidak penting, dan bercanda. Tidak pernah beliau menggurui dan menceramahiku. Tapi terkadang dalam diamnya, aku mengerti ada nilai yang  beliau ajarkan kepadaku. Jika saja aku tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir aku bertemu dan berbincang dengan mu, maka akan kuhabiskan malam itu bersamamu. Meskipun saat itu mati lampu dan kita menikmati nasi goreng bersama. Kan kubuka lebar mataku agar dapat menatap wajahmu meski dalam gelap. Dan jika saja aku tahu malam itu adalah saat terakhir kali aku memeluk dirimu, akan kupeluk erat seolah takkan kulepaskan lagi.

Buat para sahabat yang mungkin senasib, ini saya punya lagu lama salah satu koleksi dari Bapak juga sih… :( Dibawakan dan dipopulerkan oleh grup band legendaris Koes Plus, berjudul “Ayah”.

Berikut ini adalah liriknya:

Continue reading

Tips Untuk Rumah Mungil

Rumah Mungil

Memiliki rumah yang nyaman adalah dambaan setiap orang. Rumah seharusnya menjadi tempat dimana kita bisa merasa nyaman, tenang, damai, dan mampu melepaskan kita dari kepenatan setelah seharian bekerja. Makna nyaman sendiri pasti berbeda-beda bagi setiap orang. Namun secara umum, rumah yang lapang dan luas selalu menjadi harapan semua orang. Karena dengan kondisi yang luas dan lapang kita akan merasa lebih lega dan longgar dalam bernafas serta lebih tenang dan tidak sumpek dalam pikiran kita. 8-)

Sayangnya harga rumah dari tahun ke tahun semakin melonjak dan semakin tidak terjangkau oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Rumah saat ini sudah bergeser posisinya dari yang semula kebutuhan pokok menjadi kebutuhan sekunder, bahkan termasuk barang mewah karena tidak semua orang dapat memilikinya dengan mudah. Kenyataan inilah yang akhirnya mengubur angan-angan kita (yang bergaji pas-pasan) untuk memiliki rumah besar dengan halaman luas. Rumah besar dengan halaman luas akhirnya hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berkantong tebal saja. Sedangkan bagi golongan menengah ke bawah akhirnya harus puas dengan ‘hanya’ memiliki rumah type kecil (type 45 ke bawah) :( . Yah, itupun harus disyukuri karena toh akhirnya kita bisa punya rumah sendiri meskipun kecil dan ketimbang kita mengontrak. :lol:

Bagi sahabat yang memiliki nasib sama seperti saya (rumah dengan type kecil) tidak perlu berkecil hati. :-? Karena sebenarnya rumah mungil pun dapat menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali dan dapat disulap menjadi rumah yang (kelihatannya) luas. :mrgreen: Nah, bagaimana caranya agar rumah mungil kita bisa kelihatan luas? Berikut saya bagikan tipsnya…

Continue reading

Implementasi IPv6

Pada posting sebelumnya, saya berbagi kepada sahabat mengenai dunia yang saat ini mengalami krisis IPv4. Untuk menghadapi krisis tersebut, yang harus kita lakukan tidak lain tidak bukan adalah melakukan migrasi / hijrah ke IPv6. Namun, bagi sebagian besar dari kita IPv6 masih merupakan hal yang asing dan terlalu sulit untuk dimengerti. Jumlah bitnya lebih panjang, menggunakan hexadecimal, dan sejumlah alasan lain yang membuat kita ‘malas’ untuk mempelajarinya. Padahal dibalik itu semua, tersimpan potensi yang luar biasa, apa saja potensi itu? Yuk, kita simak sama-sama.

Keunggulan IPv6

Setelah melihat fakta-fakta bahwa IPv4 sudah tidak mampu lagi mengakomodasi kebutuhan pengguna dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, maka perlu adanya solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Solusi tersebut adalah dengan menerapkan penggunaan IPv6 dalam sistem komunikasi global. IPv6 merupakan penyempurnaan dari IPv4.

Pada tahun 1992 IETF selaku komunitas terbuka internet membuka diskusi para pakar untuk mengatasi masalah ini dengan mencari format alamat IP generasi berikutnya setelah IPv4 (IPng, IP Next Generation) yang kemudian menghasilkan banyak RFC (request for comments) yakni dokumen stardar yang membahas protokol, program, prosedur serta konsep internet IPv6. Setelah melalui pembahasan yang panjang, pada tahun 1995 ditetapkan melalui RFC2460 alamat IP versi 6 sebagai IP generasi berikutnya (IPng) pengganti IP versi 4. IPv6 ini menggunakan format 128 bit binary.

Dibandingkan pendahulunya (IPv4), IPv6 memiliki keunggulan, antara lain:

  1. Memiliki jumlah address sebanyak 2128 atau sekitar 3,4 x 1038 atau 340 triliun triliun triliun (undecilion).
  2. Memiliki banyak penyempurnaan protokol dibanding IP versi 4.
  3. Memiliki fitur keamanan bawaan.
  4. Memiliki kemampuan multicasting.
  5. Stateless Address Autoconfiguration.
  6. Header yang lebih sederhana.
  7. Mobilitas tinggi.
  8. Kemampuan QoS lebih baik.

Status dan Tantangan dalam Implementasi IPv6 di Indonesia

Continue reading

Awas, IPv4 Habis!!!

Pada tanggal 12 Mei 2011 kemarin saya diutus oleh kantor untuk menghadiri seminar yang diselenggarakan di Yogyakarta oleh Kemenkominfo mengenai Krisis IPv4 dan Implementasi IPv6. Kemenkominfo selaku penyelenggara sekaligus sebagai lembaga pemerintah yang berkaitan erat dengan permasalahan ini merasa perlu untuk mensosialisasikan bahwa sebentar lagi, IPv4 di dunia ini akan ‘HABIS’. Berikut ini oleh-oleh saya dari sana untuk para sahabat di dunia maya, semoga bermanfaat. :mrgreen:

Kondisi Dunia Saat Ini

Pertumbuhan dunia teknologi khususnya dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah mencapai tahapan yang luar biasa. Pertumbuhan yang ada ini didukung oleh berbagai aspek, baik dari sisi hardware maupun software. Dari sisi hardware, adanya penemuan di bidang teknologi semikonduktor memberikan akselerasi yang sangat signifikan dalam mendukung proses data yang membutuhkan kecepatan tinggi. Di sisi software, adanya diversifikasi software dapat memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk memilih layanan apa yang paling sesuai bagi mereka.

Derasnya kebutuhan akan informasi di era sekarang ini merupakan hal yang tidak terelakkan lagi. Konektifitas dan ketersediaan layanan merupakan suatu parameter yang menjadi keniscayaan. Dalam kaitan dengan konektifitas, penemuan IPv4 telah mengubah wajah dunia. Dari yang semula hanya digunakan untuk kalangan militer, kini penggunaannya telah meluas dan mencakup seluruh dunia. Dengan adanya IPv4, seluruh dunia kini dapat saling terhubung dan saling bertukar informasi. Jarak bukan lagi menjadi penghalang bagi pengguna untuk saling berkomunikasi satu sama lain dan semua dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik.

Sejarah TCP/IP dimulainya dari lahirnya ARPANET yaitu jaringan paket switching digital yang didanai oleh DARPA (Defence Advanced Research Projects Agency) pada tahun 1969. Sementara itu ARPANET terus bertambah besar sehingga protokol yang digunakan pada waktu itu tidak mampu lagi menampung jumlah node yang semakin banyak. Oleh karena itu DARPA mendanai pembuatan protokol komunikasi yang lebih umum, yakni TCP/IP. Ia diadopsi menjadi standard ARPANET pada tahun 1983. Untuk memudahkan proses konversi, DARPA juga mendanai suatu proyek yang mengimplementasikan protokol ini ke dalam BSD UNIX, sehingga dimulailah integrasi antara UNIX dan TCP/IP. Pada awalnya internet digunakan untuk menunjukan jaringan yang menggunakan internet protocol (IP) tapi dengan semakin berkembangnya jaringan, istilah ini sekarang sudah berupa istilah generik yang digunakan untuk semua kelas jaringan. Internet digunakan untuk menunjuk pada komunitas jaringan komputer worldwide yang saling terhubung dengan menggunakan protokol TCP/IP.

Ketersediaan layanan juga merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Dengan semakin pesatnya pertumbuhan teknologi, maka mendorong pula permintaan akan ketersediaan layanan yang dapat berjalan di atas platform IPv4. Kini, hampir semua layanan yang dinikmati pengguna merupakan layanan berbasis IP.

Krisis IPv4

Continue reading

Network Gathering By VHR Media

16 Maret 2011

Siang itu ponsel saya berbunyi, ketika saya lihat hanya ada nomor di sana yang berarti nomor tersebut masih asing bagi saya. Tadinya sempat terpikir untuk tidak saya angkat, karena khawatir itu hanya dari Marketing Officer yang ingin menawarkan produknya kepada saya. Entah kenapa akhirnya jempol saya menekan tanda telepon berwarna hijau pada keypad HP jadul saya.

“Halo, selamat siang, betul dengan Mas Tatang?”, demikian suara lembut nan renyah dari seberang sana menyapa saya.

Saya sempat terhenyak, karena dia menyapa dengan memanggil nama sapaan akrab saya, dan itu hanya orang tertentu saja yang tahu.

“Iya, betul, Mbak. Ini dari mana ya?”

“Ini Wiwik, Mas, dari VHR Media. Mas Tatang pernah mengikuti Blog Competition yang diadakan oleh VHR Media, kan?”, tanya si mbak tersebut masih dengan suara ramah nan renyah.

Saya pun langsung menggali memori, mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan Mbak Wiwik tadi. Dan, TRING!!! Saya pun ingat bahwa saya pernah mendaftarkan dua artikel yang berjudul Benarkah Jakarta akan Tenggelam? dan Terumbu Karang yang Semakin Berkurang dalam Beat Blog Writing Contest yang diadakan oleh VHR Media.

“O iya, Mbak, betul sekali. Bagaimana Mbak, ada yang bisa saya bantu?”, jawabku penuh antusias.

“Jadi begini, Mas. Blog Mas Tatang masuk ke dalam 20 nominasi blog yang akan dikompilasi ke dalam sebuah buku. Nah, besok tepatnya tanggal 17 Maret 2011 adalah pengumuman pemenang sekaligus penyerahan hadiah. Untuk itu kami meminta konfirmasi dari Mas Tatang apakah bisa hadir atau tidak dalam acara tersebut?”, Mbak Wiwik menjelaskannya secara panjang lebar.

Dengan masih setengah tidak percaya, saya pun menjawab, “Baik, Mbak saya bisa hadir, tapi tempatnya di mana ya?”

“Kami juga sudah mengirimkan konfirmasi melalui email, sudah diterima belum email dari kami? Di sana kami cantumkan secara lengkap mengenai acara beserta lokasinya.”

“Wah, saya belum ngecek email, Mbak. Tapi baiklah, nanti saya lihat deh.  Terima kasih atas informasinya ya, Mbak.”, saya jadi malu, karena ketahuan jarang buka email. :mrgreen:

“Ok, Mas. Jadi besok bisa hadir ya? Kami tunggu kehadirannya, Terima kasih ya Mas.”, demikian Mbak wiwik menutup percakapan kami.

“Baik, Mbak, sama-sama.”

17 Maret 2011

Tempat itu bernama Goethe Haust, atau biasa dikenal juga dengan Goethe Institute. Dengan menunggang motor kesayangan, akhirnya sampai juga di lokasi, yang berada di bilangan Menteng Jakarta Pusat.

 

Network Gathering

Continue reading

Jangan Renggut Damai Itu Dari Kami!!!

Beberapa hari terakhir ini banyak sekali kejadian yang menggemparkan di sekitar kita. Baik itu yang terjadi di luar negeri maupun di dalam negeri. Di luar negeri, telah terjadi revolusi besar-besaran yang terjadi di Tunisia dan Mesir. Kejadian ini mengingatkan saya pada kondisi Indonesia pada tahun 1998, yaitu suatu kondisi masyarakat yang telah lelah terhadap suaatu rezim tertentu. Di dalam negeri, kita digemparkan oleh adanya berita mengenai penyerangan massa terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, serta kerusuhan yang terjadi di Temanggung yang disulut oleh insiden penodaan agama.

Saya sering bertanya dalam hati, mengapa ketika kejadian tersebut berlangsung, yang saya lihat bukanlah bangsa Indonesia. Yang saya lihat adalah bangsa bar-bar yang tidak punya tata krama dan sopan santun, sungguh sangat brutal. Seolah masing-masing orang memiliki hak untuk menghakimi orang lain, dan seolah menjadi Tuhan bagi yang lainnya, hanya dia yang berhak menentukan apakah orang lain layak hidup atau tidak. :(

Terlepas apakah insiden itu ada yang mendalangi atau tidak, yang saya pertanyakan di sini adalah, kemanakah hati nurani kita? Apakah kita telah bercermin? Sudah begitu sempurnakah iman kita, sehingga kita dapat men-cap orang lain kafir dan sebagainya? Begitu sucikah hati kita, ketika kita menilai orang lain lebih rendah dari diri kita? Bukankah di saat demikian itu kesombongan telah menelusup ke dalam hati kita? Ketika kita telah menganggap diri kita lebih dari orang lain? Bahkan Rasulullah SAW pun sebagai insan pilihan senantiasa rendah hati dan penuh asih. Namun, mengapa kita yang katanya sebagai pengikutnya justru berbuat yang sebaliknya?

Continue reading

WIKILEAKS : Bad guy or good guy?

 

Wikileaks Logo

Belakangan ini nama Wikileaks membuat heboh dunia maya. Kemampuannya mengungkap rahasia-rahasia Amerika membuatnya menjadi “selebriti” dadakan di jagat maya. Amerika Serikat, sebuah negara adidaya seolah dibuat tak berkutik oleh Wikileaks ini. Satu persatu “borok-borok” Amerika mulai diungkap ke hadapan publik seolah menelanjangi negara Paman Sam tersebut. Dari mulai perjanjian dengan Belanda mengenai masalah nuklir, sampai kesepakatan dengan Raja Arab Saudi mengenai permasalahan Iran.

Amerika yang merupakan gudangnya Intel, tak mau tinggal diam. Rumah (baca: Server Amazon) tempat bernaung si Wikileaks ini pun mau tak mau harus mendepak tamunya tersebut. Kemudian pendiri Wikileaks sendiri saat ini tersangkut kasus pelecehan seksual dan sedang menunggu persidangan. Tapi saya sendiri tidak sepenuhnya yakin bahwa pendiri Wikileaks benar-benar tersangkut kasus tersebut, bisa saja ini merupakan taktik untuk menahan langkah Julian Assange supaya tidak bertindak lebih jauh. Karena jika  Julian Assange langsung ditahan, maka akan tampak sekali jika Amerika menyembunyikan sesuatu.

Seperti halnya di dalam sebuah film, selalu ada penjahat dan ada jagoannya. Saya mengandai-andai, jika kasus ini diangkat ke dalam sebuah film, kira-kira siapa ya, yang pantas untuk menjadi penjahatnya? Wikileaks atau Paman Sam? Jawaban saya adalah, tergantung siapa yang membuat film. Jika yang membuat film adalah Holywood, maka yang menjadi penjahatnya sudah pasti si Wikileaks, dengan alibi membahayakan keamanan nasional Amerika. Tapi jika yang membuat film adalah sineas indie, maka bisa jadi yang menjadi penjahat adalah si Paman Sam karena dianggap menghalang-halangi terungkapnya sebuah kebenaran.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 161 other followers